Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Momentum lebaran Idulfitri mendongkrak permintaan di Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT). Asosiasi dan pengusaha di industri TPT mengamini bahwa secara historis, permintaan produk tekstil dan pakaian jadi menjelang Idulfitri mengalami peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan periode normal.
Wakil Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) David Leonardi mengungkapkan pada umumnya, permintaan di sektor ritel dapat meningkat puluhan persen sejalan dengan kebutuhan masyarakat untuk membeli pakaian baru, perlengkapan ibadah, serta berbagai produk fesyen untuk perayaan hari raya.
Kenaikan permintaan di sektor hilir diikuti dengan peningkatan aktivitas produksi di sektor garmen dan konveksi.
Sedangkan di sektor hulu dan menengah seperti pemintalan, penenunan, dan pencelupan pada umumnya bergerak lebih awal untuk memasok kebutuhan bahan baku.
"Permintaan Lebaran tahun ini mulai terasa sejak beberapa bulan sebelum Ramadan, terutama dari pelaku ritel yang mempersiapkan stok untuk kebutuhan hari raya," kata David saat dihubungi Kontan.co.id, Selasa (17/3/2026).
Baca Juga: Kabar Baik! Tarif LRT Jabodebek Maksimal Rp 10.000 Selama Libur Panjang Lebaran 2026
Ketua Umum Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia (AGTI) Anne Patricia Sutanto mengamini pada sektor hilir seperti industri garmen, momentum lebaran tetap menjadi penggerak musiman (seasonal driver) yang penting bagi penjualan produk fesyen. Permintaan biasanya meningkat pada beberapa kategori utama seperti busana muslim, set pakaian keluarga, pakaian anak-anak, serta tren produk modest fashion.
"Periode Ramadan hingga menjelang Idulfitri secara historis selalu menjadi salah satu momentum paling penting bagi industri garmen dan tekstil di Indonesia. Tradisi masyarakat membeli pakaian baru menjelang Hari Raya secara konsisten mendorong peningkatan konsumsi terhadap produk tekstil, pakaian jadi, dan fesyen," kata Anne.
Tekanan dari Produk Impor
Hanya saja, baik API maupun AGTI kompak memberikan catatan terhadap situasi industri TPT pada periode Idulfitri tahun ini. David memperkirakan permintaan di sektor ritel meningkat cukup tinggi, bahkan bisa lebih dari 75% dibandingkan periode normal.
Tetapi, sebagian besar peningkatan permintaan tersebut justru dipenuhi oleh produk impor. David memperkirakan sekitar 80% dari kenaikan permintaan di pasar ritel diisi oleh barang impor, sehingga dampaknya terhadap pertumbuhan kinerja industri TPT dalam negeri belum optimal.
Dari sisi produksi domestik, utilisasi industri di sektor hulu dan menengah masih berada di bawah 50% dan tidak menunjukkan kenaikan yang signifikan menjelang Lebaran.
Peningkatan pesanan hanya dirasakan secara terbatas di sektor garmen dan konveksi yang langsung berhubungan dengan pasar ritel.
Baca Juga: Periode Mudik, Penumpang Whoosh Diprediksi Capai 25.000 Orang Per Hari
David menegaskan, industri nasional telah melakukan berbagai langkah antisipasi. Mulai dari menjaga ketersediaan bahan baku, mengatur jadwal produksi, hingga mengelola efisiensi biaya agar margin tetap terjaga di tengah tekanan kenaikan biaya produksi.
Namun ruang gerak industri tetap terbatas karena pasar domestik menghadapi persaingan yang sangat ketat dari produk impor berharga murah. Apalagi di tengah lemahnya daya beli masyarakat yang berkaitan erat dengan kondisi industri manufaktur, khususnya sektor padat karya seperti tekstil.
"Dalam pandangan industri, peluang lebaran sebenarnya tetap besar karena permintaan masyarakat pada periode ini selalu meningkat. Namun, maraknya produk impor murah, baik yang masuk secara legal maupun ilegal, serta praktik dumping menjadi tekanan utama bagi industri tekstil nasional," tegas David.
Sementara itu, Anne membeberkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir dinamika pasar industri tekstil mengalami perubahan. Sejak tahun 2023 peningkatan permintaan menjelang lebaran masih terjadi, tetapi dengan skala pertumbuhan yang lebih moderat, sekitar 20% dibandingkan periode normal.
Baca Juga: Masa Depan BUMN Karya: Dony Oskaria Ungkap Strategi Konsolidasi
Padahal, sebelum pandemi covid-19 permintaan tekstil menjelang lebaran dapat meningkat signifikan, bisa melonjak hingga sekitar 100% sekitar dua bulan sebelum Idulfitri. Menurut Anne, kondisi ini menunjukkan pasar domestik masih berada dalam fase pemulihan dan menghadapi berbagai tantangan struktural di industri.
Menimbang berbagai indikasi di industri, Anne memperkirakan pertumbuhan permintaan dan volume penjualan pada Idulfitri tahun ini dapat meningkat sekitar 15% – 20% dibandingkan periode normal.
Jika dibandingkan dengan musim Lebaran 2025, permintaan pada tahun ini diperkirakan relatif stabil dengan kecenderungan sedikit lebih baik.
AGTI melihat periode Lebaran menjadi kesempatan penting bagi pelaku industri untuk mendorong inovasi desain, memperkuat brand lokal, serta meningkatkan kualitas dan nilai tambah produk.
Dengan begitu, produk tekstil dan garmen Indonesia diharapkan bisa semakin kompetitif dan semakin diminati oleh konsumen dalam negeri.
"Dengan kapasitas produksi yang besar serta pengalaman panjang dalam memenuhi kebutuhan pasar Ramadan, industri garmen dan tekstil Indonesia optimistis dapat merespons peningkatan permintaan secara optimal," tegas Anne.
Baca Juga: Jelang Mudik Lebaran, Pertamina Patra Niaga Terapkan Inovasi Block Mode untuk Kilang
Dihubungi terpisah, Presiden Direktur PT Trisula Textile Industries Tbk (BELL) Karsongno Wongso Djaja melihat adanya perkembangan dalam tren konsumsi pakaian saat Lebaran, di tengah preferensi masyarakat yang semakin beragam.
Selain itu, periode libur panjang setelah Lebaran turut mendorong konsumen menyiapkan berbagai pilihan pakaian untuk beragam aktivitas.
Melihat dinamika tersebut, BELL menargetkan pertumbuhan yang stabil pada segmen ritel seiring dengan perkembangan permintaan pasar. Pada musim lebaran ini, BELL mengoptimalkan berbagai kanal penjualan melalui merek JOBB dan Jack Nicklaus yang saat ini memiliki 211 point of sales di berbagai lokasi.
"Produk retail memang biasanya memiliki seasonality tren penjualan, dengan penjualan tinggi umumnya terjadi saat musim liburan. Perseroan juga menawarkan berbagai program promo dan diskon sebagai bagian dari upaya memberikan nilai tambah bagi pelanggan, sekaligus mendorong pertumbuhan penjualan selama musim belanja," tandas Karsongno.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













