kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.664   -12,00   -0,07%
  • IDX 6.636   -31,42   -0,47%
  • KOMPAS100 867   -5,52   -0,63%
  • LQ45 658   -5,19   -0,78%
  • ISSI 231   -0,99   -0,43%
  • IDX30 368   -3,06   -0,83%
  • IDXHIDIV20 455   -4,73   -1,03%
  • IDX80 99   -0,80   -0,81%
  • IDXV30 125   -1,37   -1,08%
  • IDXQ30 118   -1,17   -0,99%

Perpadi Ungkap Penyebab Beras Premium Langka di Ritel Modern


Minggu, 06 September 2026 / 18:59 WIB
Perpadi Ungkap Penyebab Beras Premium Langka di Ritel Modern
ILUSTRASI. Konsumen memilih beras premium Premium (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Vina Elvira | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) menilai langkanya stok beras premium di pasar ritel modern tidak terlepas dari terbatasnya pasokan gabah serta tingginya harga gabah di tingkat petani.

Ketua Umum Perpadi Sutarto Alimoeso mengatakan, pasokan gabah saat ini memang terbatas karena belum memasuki periode panen besar. Kondisi tersebut turut memicu persaingan dalam mendapatkan gabah di antara pelaku usaha.

“Pasokan gabah terbatas, karena bukan saat panen besar (musiman), dan terjadinya persaingan/ perebutan gabah, yang berakibat harga gabah GKP naik terus,” ujar Sutarto, kepada Kontan.co.id, Minggu (6/9/2026).
Menurutnya, terbatasnya pasokan gabah yang bersifat musiman tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi ketersediaan beras di pasar.

Di sisi lain, biaya produksi dan distribusi juga mengalami kenaikan. Sutarto menyebut, kenaikan tersebut antara lain dipengaruhi oleh meningkatnya harga sejumlah faktor produksi, termasuk bahan baku plastik.

Baca Juga: Bulog Pastikan Beras Premium untuk MBG, Bukan Beras Subsidi

Sutarto menambahkan, dengan harga gabah yang berlaku saat ini, penggilingan padi kesulitan memproduksi beras dengan harga yang sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah.

"Penggilingan tidak mampu memproduksi beras dengan harga gabah saat ini dan tidak boleh harga beras melewati HET," jelasnya.

Meski demikian, Perpadi menilai kenaikan HET bukan menjadi solusi utama untuk mengatasi persoalan tersebut.  Sebab, harga GKP sebesar Rp6.500 per kilogram dengan kualitas apa pun di tingkat petani dinilai sudah berada pada level yang wajar.

“Jadi seyogyanya harga GKP diharapkan kembali normal sehingga HET bisa dipertahankan," ujar Sutarto.

Baca Juga: BULOG Perkuat Stok Beras, 110.000 Ton Disalurkan ke Pasar dan Ritel Modern

Menurut dia, yang perlu dilakukan adalah menghentikan perebutan gabah, termasuk penyerapan gabah oleh pemerintah, agar keseimbangan pasokan dan harga dapat kembali terjaga.

Di sisi lain, solusi persoalan ketersediaan beras bukan dengan menaikkan HET. Menurutnya, pemerintah perlu memastikan operasi pasar dilakukan secara tepat untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan harga.

“Sebenarnya solusi yang tepat yang harus diterapkan dengan kesesuain serta ketepatan waktu, tempat, cara, jumlah dan harga dalam menjaga keseimbangan melalui operasi pasar," pungkasnya.

Baca Juga: Bulog Bakal Ekspor ke Singapura, Siapkan 200.000 Ton Beras Kualitas Premium

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×