kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Pertamina kaji opsi relokasi proyek DME ke Tanjung Enim


Rabu, 09 Oktober 2019 / 17:42 WIB

Pertamina kaji opsi relokasi proyek DME ke Tanjung Enim
ILUSTRASI. Koki menunjukan tabung gas campuran elpiji dengan DME pada pencanangan pembangunan pabrik hilirisasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) di tambang Peranap PT Bukit Asam di Kabupaten Inhu, Riau, Kamis (7/2/2019). PT Bukit Asam Tbk bersama PT Pertamina

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Proyek dimethylether (DME) antara PT Pertamina dan PT Bukit Asam (PTBA) berpotensi direlokasi dari lokasi semula di Peranap, Riau.

Proyek gasifikasi tambang ini berpotensi besar dipindahkan ke lokasi tambang Tanjung Enim. Direktur Utama PTBA Arviya Arifin bilang kedua pihak tengah mematangkan proses pembentukan Joint Venture. Lebih jauh ia mengungkapkan, berdasarkan perhitugan keekonomian, lokasi Tanjung Enim dinilai lebih ekonomis.

Baca Juga: Elnusa Petrofin resmikan fasilitas Modular Tank di DPPU di Bandara Raden Inten

Hal ini didorong oleh kesiapan infrastruktur di sekitar tambang Tanjung Enim. Selain itu, jika nantinya relokasi ini terwujud maka proyek DME ini akan berdekatan dengan proyek serupa yang dikerjakan antara PTBA dan PT Candra Asri Petrochemical.

Adapun, kesiapan infrastruktur tersebut meliputi ketersediaan listrik, air, lahan serta sarana prasarana jalan atau akses.

"Kita lagi kaji, apakah tetap di Peranap atau dipindah ke Tanjung Enim. Karena dari segi infrastruktur jauh lebih siap dan lebih mudah dihitung secara keekonomian," ujar Arviyan di Jakarta Convention Center, Rabu (9/10).

Lebih jauh Arviyan menjelaskan, sejauh ini dimungkinkan akan dilaksanakan dua proyek di Tanjung Enim. Kendati demikian, jika Peranap dirasa telah siap secara infrastruktur maka proyek tersebut juga akan tetap dikembangkan secara perlahan.

Senada, Direktur Utama PT Pertamina Nicke Widyawati membenarkan hal tersebut. Selain itu, sejumlah pembahasan masih terus dilakukan.

Baca Juga: Elnusa Petrofin resmikan fasilitas Modular Tank di DPPU di Bandara Raden Inten

"Sedang mematangkan desain, serta pemilahan teknologi," ujar Nicke disela gelaran Hari Listrik Nasional, Rabu (9/10). Menurut Nicke, mengenai rencana relokasi, Pertamina sepenuhnya mengikuti keputusan dari PTBA.

Nicke memastikan, semuanya masih dalam kajian. Nantinya, lokasi yang dirasa paling memungkinkan yang akan didahulukan.

Kontan.co.id mencatat, Arviyan Arifin menjelaskan ada dua proyek hilirisasi yang tengah dikelola PTBA yakni proyek gasifikasi di tambang Peranap dan tambang Tanjung Enim.

Perusahaan tambang ini masih menghitung soal nilai investasi dari kedua proyek tersebut dan totalnya diperkirakan mencapai US$ 5,8 miliar atau setara Rp 81,2 triliun. Ia berharap para investor dalam proyek tersebut juga bisa ikut mendanai.

Adapun, untuk proyek hilirisasi tambang di Peranap, PTBA akan memproduksi batubara berkalori rendah dan mengolahnya menjadi DME. Untuk proyek tersebut, PTBA bekerjasama dengan Pertamina selaku offtaker DME dan Air-Products sebagai pemilik teknologi gasifikasi batubara.

Baca Juga: Soal plan of development proyek IDD, begini tanggapan Chevron

Kerjasama itu ditandai dengan penandatangan nota kesepahaman yang dilakukan di Allentown, Amerika Serikat pada 7 November 2018. Kemudian pada 16 Januari 2019 dilanjutkan dengan penandatanganan kerangka kerjasama pendirian Joint Venture Company. Proyek itu ditargetkan akan selesai dan mulai berproduksi pada 2023 dengan konsumsi batubara sebesar 9,2 juta ton per tahun.


Reporter: Filemon Agung
Editor: Azis Husaini

Video Pilihan

Tag

Close [X]
×