kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.980.000   16.000   0,81%
  • USD/IDR 16.488   106,00   0,65%
  • IDX 7.830   -121,60   -1,53%
  • KOMPAS100 1.089   -17,02   -1,54%
  • LQ45 797   -14,45   -1,78%
  • ISSI 265   -3,29   -1,23%
  • IDX30 413   -7,90   -1,88%
  • IDXHIDIV20 481   -7,60   -1,56%
  • IDX80 120   -2,17   -1,77%
  • IDXV30 129   -2,94   -2,22%
  • IDXQ30 134   -2,35   -1,73%

Pertamina: Kilang Balik Papan Selesai Pada 2012


Kamis, 20 Agustus 2009 / 18:15 WIB
Pertamina: Kilang Balik Papan Selesai Pada 2012


Reporter: Gentur Putro Jati | Editor: Dikky Setiawan

BALIKPAPAN. PT Pertamina (Persero) menargetkan proyek pembangunan Residual Catalytic Cracking (RCC) kilang Balikpapan selesai pada 2012. Proyek yang digarap Pertamina dengan Star Petro Energy LLC, anak usaha EtaStar Group dari Dubai dan Itochu Corporation asal Jepang tersebut, diharapkan dapat meningkatkan Nelson Complexity Index kilang Balikpapan dari 3,6 menjadi 9 yang merupakan standar indeks kilang di Amerika Serikat pada 2013.

Ahmad Fathoni Mahmud, Manajer Engineering dan Pengembangan Refinery Unit V Balikpapan menjelaskan peningkatan indeks tersebut bisa dilakukan dengan cara membuat kilang tersebut mampu menghasilkan lebih banyak produk yang mempunyai nilai jual lebih tinggi ketimbang produk-produk yang dihasilkan sekarang. Semakin banyak variasi produk yang bisa dihasilkan, maka efisiensi dan harga jual produk kilang Balikpapan bisa lebih tinggi sehingga meningkatkan nilai indeks tersebut.

"Sebenanrnya agak teknis, selama ini kita tidak bisa mengolah Low Sulfur Wax Residue (LSWR) setelah proses Crude Distillation Unit (CDU) dan High Vacuum Unit (HVU). Makanya selama ini residu itu kita jual ke China dan Jepang sebagai bahan baku industri disana. Padahal harganya rendah, sehingga kita jual rugi," kata Fathoni, Kamis (20/8).

Fathoni mencatat harga jual LSWR hanya US$ 58 per barel, dibandingkan harga minyak mentah rata-rata US$ 73,34 per barel. Nah, supaya kilang Balikpapan dapat mengolah LSWR menjadi produk BBM bernilai jual tinggi, maka diperlukan teknologi bernama RCC yang akan digarap Pertamina bersama dua mitranya tersebut.

"Sampai akhir tahun ini kita masih lakukan studi. Kemudian 2010 kita setting Engineering, Procurement, Construction (EPC) nya bersama mitra itu karena mereka punya keahlian dan kemampuan finansialnya. Diharapkan EPC selesai 2012 sehingga bisa langsung comissioning, lalu pada 2013 diharapkan kita bisa operasikan unit baru tersebut dimana LSWR sudah bisa dirubah menjadi produk yang marjinnya positif," jelasnya.

Sayangnya, Fathoni enggan menjelaskan kebutuhan dana untuk merealisasikan proyek tersebut. Manajer Unit Produksi Refinery Unit V Balikpapan Michael Ricardo Sihombing setali tiga uang dengan Fathoni, ia enggan menyebut berapa kebutuhan dana proyek tersebut dengan alasan hal itu merupakan wewenang Perseroan. "Tetapi kapasitas olah RCC itu sekitar 50.000 barel per hari. Jadi diharapkan revenue kita bisa lebih besar lagi. Karena kita tidak menjual lagi LSWR tetapi produk lain yang lebih mahal harganya," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] AI-Powered Scenario Analysis AYDA dan Penerapannya, Ketika Debitor Dinyatakan Pailit berdasarkan UU. Kepailitan No.37/2004

[X]
×