kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45935,51   7,16   0.77%
  • EMAS1.335.000 1,06%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Perusahaan beras belum khawatir skema baru penyerapan Bulog


Kamis, 29 November 2018 / 21:25 WIB
Perusahaan beras belum khawatir skema baru penyerapan Bulog
ILUSTRASI. RUPS Buyung Poetra Sembada


Reporter: Kiki Safitri, Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kebijakan pemerintah terkait skema baru penyerapan beras oleh Perum Bulog berpotensi memunculkan perebutan pembelian gabah dan beras dengan perusahaan beras swasta. Meski begitu, salah satu  perusahaan beras yakni PT Buyung Poetra Sembada Tbk masih optimis dapat menyerap beras tahun 2019 sesuai dengan kapasitas produksi pabri perusahaan.

Direktur Utama Buyung Poetra Sembada Sukarto Bujung mengatakan, optimis tidak terjadi perebutan pasokan gabah dan beras dengan perusahaan pelat merah tersebut. Pasalnya, ia mengatakan, emiten dengan kode saham HOKI ini hanya menyerap sekitar 1% saja dari total produksi beras nasional yang mencapai 32 juta ton. "Kalau jumlah satu persen dari market beras nasional itu tidak sampai 300.000 ton dan penjualan kami tidak sampai sebesar itu satu tahun, karena itu kami tidak khawatir,"ujar Sukarto kepada KONTAN, Kamis (29/11).
 
Sukarto juga menegaskan, kalau melihat penyerapan HOKI, maka Bulog tidak dilihat sebagai kompetitor. Sebab penyerapan Bulog mencapai 8%-10% dari produksi nasional. Karena itu, ia mengatakan tidak ada strategi baru dalam meningkatkan penyerapan gabah dan beras tahun 2019.
 
PT Sumber Energi Pangan  (SEP), anak usaha Triputra Grup yang bermarks di Sumatra Selatan belum melihat Bulog sebagai rival. Chief Executive Officer (CEO) PT Sumber Energi Pangan Sandy Setiawan Lewi mengatakan, meski saat ini penyerapan beras SEP tidak sebanyak biasanya, tapi tidak khawatirkan potensi perebutan beras dengan Bulog.
 
"Suplai gabah pada panen raya melimpah,"ujarnya kepada KONTAN. Pada 2015, produsen beras dengan merek Raja ini memiliki kapasitas produksi 125.000 ton per tahun.
 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×