kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.695.000   18.000   0,67%
  • USD/IDR 17.869   44,00   0,25%
  • IDX 6.479   77,58   1,21%
  • KOMPAS100 836   6,87   0,83%
  • LQ45 636   3,92   0,62%
  • ISSI 228   5,18   2,33%
  • IDX30 356   1,93   0,55%
  • IDXHIDIV20 432   2,20   0,51%
  • IDX80 95   0,70   0,73%
  • IDXV30 120   1,00   0,84%
  • IDXQ30 113   0,72   0,64%

Petani garam khawatirkan kuota impor terlalu besar


Rabu, 31 Januari 2018 / 22:25 WIB
ILUSTRASI. PRODUKSI GARAM


Reporter: | Editor: Sanny Cicilia

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Petani garam masih mengkhawatirkan kuota impor garam industri. Pasalnya kuota impor tersebut dinilai terlalu besar sehingga dapat mengganggu garam petani.

Walaupun Kementerian Perdagangan (Kemdag) baru memberi izin impor sebesar 2,37 juta ton, tetapi petani menilai jumlah tersebut akan terus bertambah. Pasalnya, kuota impor garam industri yang ditetapkan sebesar 3,7 juta ton.

"Petani sangat khawatir karena bisa akhirnya impor 3,7 juta ton," ujar Ketua Asosiasi Petani Garam Rakyat Indonesia (APGRI), Jakfar Sodikin kepada Kontan.co.id, Rabu (31/1).

Besarnya kuota impor garam akan membuat industri lebih memilih menggunakan garam impor. Hal tersebut dikarenakan harga garam impor lebih murah.

Jakfar bilang garam impor dari Australia bisa dibeli dengan harga Rp 650 per kilogram (kg). Harga tersebut diungkapkan Jakfar sudah ditambah dengan pengiriman hingga gudang.

Sementara untuk garam dari India harganya bisa mencapai Rp 400 per kg. Padahal Jakfar bilang kualitas garam dari India tidak berbeda jauh dengan garam petani Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×