kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Petani sawit tak perlu takut efek moratorium


Rabu, 27 Juli 2016 / 10:17 WIB


Reporter: Noverius Laoli | Editor: Adi Wikanto

Jakarta. Upaya pemerintah melakukan moratorium lahan sawit menuai pro dan kontra. Kendati begitu, pemerintah meyakinkan para petani kalau moratorium ini akan lebih berkeadilan bagi petani. Pemerintah menjanjikan, sambil melakukan moratorium bagi semua kebun petani yang produktivitasnya rendah akan dilakukan replanting seluruhnya.

Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Gamal Nasir meminta para petani sawit tidak perlu khawatir produksi akan menurun akibat moratorium. Menurutnya, Indonesia sudah memiliki kebun kelapa sawit paling luas di dunia. Tidak ada negara lain yang sanggup memiliki lahan sebesar itu.

Untuk saat ini, lebih baik fokus pada peningkatan produktviitas. Sekarang yang harus diwaspadai adalah Ghana, Pantai Gading yang mulai menebang kakao diganti dengan kelapa sawit.

Luas lahan yang dimiliki pengusaha sudah cukup besar karena selama ini terus ekspansi. BUMN memprihatinkan karena sampai sekarang masih stagnan. Sedang kebun kelapa sawit rakyat harus ditingkatkan produktivitasnya.

Gamal juga minta Badan Pengeloa Dana Perkebunan Sawit (BPDPS) untuk mengubah mindsetnya, dari selama ini yang banyak membiayai biodiesel dengan mengalihkannya pada petani. “Seharusnya dana untuk petani kelapa saMt jauh lebih besar," ujar Gamal, Rabu (27/7).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×