kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   3.000   0,11%
  • USD/IDR 17.835   -41,00   -0,23%
  • IDX 6.375   97,87   1,56%
  • KOMPAS100 833   11,37   1,38%
  • LQ45 633   7,57   1,21%
  • ISSI 221   4,34   2,00%
  • IDX30 351   3,57   1,03%
  • IDXHIDIV20 434   1,47   0,34%
  • IDX80 95   1,26   1,34%
  • IDXV30 119   0,20   0,17%
  • IDXQ30 112   0,55   0,49%

PLN Hadapi Lonjakan Kebutuhan Listrik Data Center hingga 25 GW pada 2034


Rabu, 23 September 2026 / 16:00 WIB
PLN Hadapi Lonjakan Kebutuhan Listrik Data Center hingga 25 GW pada 2034
Executive Vice President (EVP) Niaga dan Pemasaran PLN Nayusrizal mewakili Direktur Retail dan Niaga (PLN/dok)


Sumber: TribunNews.com | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kebutuhan listrik industri data center di Indonesia diproyeksikan melonjak seiring pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan ekonomi digital.

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) memperkirakan kebutuhan kapasitas listrik untuk sektor ini dapat mencapai 25.297 megawatt (MW) pada 2034. 

Executive Vice President (EVP) Niaga dan Pemasaran PLN Nayusrizal mengatakan, pertumbuhan data center membuat kebutuhan listrik tidak lagi hanya bertumpu pada penambahan pasokan, tetapi juga kesiapan jaringan dan infrastruktur pendukung.

Hal tersebut disampaikan Nayusrizal yang mewakili Direktur Retail dan Niaga PLN dalam opening keynote Data Centre Power Forum pada ajang Electricity Connect 2026 di ICE BSD, Tangerang, Selasa (22/9/2026).

Baca Juga: PLN Ungkap Pesanan Listrik Data Center Kini Tembus 1-3 GW per Proyek

Menurut dia, kapasitas IT terpasang data center di Indonesia saat ini sekitar 580 MW pada 2026. Angka tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 3,5 gigawatt (GW) pada 2030.

“Peran kami sekarang bukan lagi sekadar menjual listrik, tetapi memungkinkan pertumbuhan infrastruktur digital,” ujar Nayusrizal.

Saat ini, PLN melayani 159 pelanggan data center dengan total kapasitas tersambung sekitar 1.990 megavolt ampere (MVA). Sekitar 99% kapasitas tersebut masih terkonsentrasi di sistem Jawa-Madura-Bali (JAMALI), terutama Jakarta Raya, Jawa Barat, dan Banten.

Namun, ekspansi pusat data mulai bergeser ke sejumlah wilayah di luar Jawa, termasuk Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. Pergeseran ini membuat kebutuhan pembangunan jaringan, gardu induk, pembangkit, dan perencanaan pasokan menjadi semakin penting.

Nayusrizal mengatakan, pertumbuhan permintaan dari industri data center membutuhkan perencanaan kelistrikan yang dilakukan secara terintegrasi. Hal ini mencakup kesiapan jaringan dan gardu induk hingga pembangkitan serta ketersediaan energi hijau.

Baca Juga: Cikarang Listrindo (POWR) Kecipratan Permintaan Listrik Data Center, Kantongi 274 MW

Selain kapasitas pasokan, operator data center juga membutuhkan keandalan jaringan, koneksi yang memadai, kepastian komersial, serta akses terhadap energi hijau. Faktor tersebut turut menentukan lokasi dan waktu pengoperasian pusat data.

Karena itu, PLN mendorong pendekatan early alignment, yakni koordinasi dengan pengembang sejak tahap awal pembangunan data center.

Langkah ini ditujukan agar kebutuhan daya dan target operasi dapat diselaraskan dengan kesiapan jaringan, gardu induk, pembangkitan, serta rencana penyediaan energi hijau.

“Koordinasi sejak awal memungkinkan kebutuhan daya diselaraskan dengan kesiapan sistem,” kata Nayusrizal.

Baca Juga: PLN Teken PJBTL Terbesar untuk Data Center, Siap Pasok Listrik 511 MVA ke DayOne

Dengan proyeksi kebutuhan listrik yang meningkat hingga 25.297 MW pada 2034, ekspansi data center akan menjadi salah satu tantangan baru bagi PLN dalam menyiapkan kapasitas dan keandalan sistem kelistrikan untuk menopang pertumbuhan ekonomi digital dan AI di Indonesia.

Sumber: https://www.tribunnews.com/bisnis/7886480/pln-perkuat-infrastruktur-hadapi-lonjakan-kebutuhan-listrik-data-center-25-gw-di-2034.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×