Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Penyelenggara Data Center Indonesia atau Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) menilai peluang industri data center (pusat data) di Indonesia semakin besar seiring pesatnya perkembangan artificial intelligence (AI).
Ketua Umum IDPRO Hendra Suryakusuma memperkirakan kapasitas data center nasional yang sudah sekitar 630 megawatt (MW) per Mei 2026, berpotensi tumbuh hingga 11 gigawatt (GW) pada 2030.
Lonjakan kebutuhan AI dinilai menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan industri data center dalam beberapa tahun ke depan.
Menurut Hendra, skala investasi pembangunan data center juga semakin besar. Saat ini, kebutuhan investasi untuk membangun 1 MW kapasitas data center mencapai sekitar US$ 10 juta.
Dengan demikian, pembangunan data center berkapasitas 100 MW membutuhkan investasi sekitar US$1 miliar atau sekitar Rp18 triliun. Angka tersebut, kata Hendra, baru mencakup kebutuhan core and shell, mechanical, dan electrical, belum termasuk investasi lahan maupun biaya operasional.
Baca Juga: Bekasi Fajar (BEST) Siapkan Kawasan Industri AI-Ready, Bidik Peluang dari Data Center
“Jadi pembangunan 100 megawatt sekarang sudah menjadi hal yang biasa di industri,” katanya di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Hendra bercerita, saat IDPRO berdiri pada 2016, rata-rata kapasitas yang dijalankan anggota asosiasi hanya sekitar 8 kilowatt (kW) per rack. Angka tersebut meningkat menjadi sekitar 16 kW per rack pada 2019 dan mencapai 32 kW per rack pada 2023. Bahkan saat ini, sejumlah anggota IDPRO telah mengoperasikan server AI dengan kapasitas hingga 132 kW per rack.
Ke depan, kebutuhan tersebut diproyeksi dapat meningkat hingga 620 kW per rack, bahkan mencapai 1,2 MW per rack dengan perkembangan teknologi AI generasi berikutnya.
Ia menilai perkembangan AI memang membuat kebutuhan daya komputasi data center meningkat drastis. Ia mencontohkan, pencarian menggunakan Google Search biasa membutuhkan sekitar 0,28 watt untuk tujuh kata. Sementara penggunaan ChatGPT membutuhkan sekitar 3,8 watt.
"Tapi kalau teks itu kita coba prompting untuk meng-generate video, itu bisa lebih dari 5.800 watt. Jadi inilah yang membuat industri ini menjadi lebih banyak membutuhkan power," imbuh Hendra.
Ia menilai ondisi tersebut membuat industri data center bukan hanya membutuhkan energi besar atau power hungry, melainkan juga memerlukan sistem pendinginan yang lebih maju (water thirsty).
Baca Juga: Bisnis Data Center Indonesia Makin Prospektif, IDCEC Perkuat Ekosistem Industri
“Pendinginannya harus menggunakan liquid cooling karena air cooling sudah tidak efisien untuk kebutuhan AI dengan density tinggi,” jelas Hendra.
Karena itu meski peluang investasinya besar, pengembangan data center AI juga menghadapi sejumlah tantangan, terutama dari sisi energi, infrastruktur, dan sumber daya manusia.
Hendra mengatakan, keandalan energi menjadi salah faktor utama dalam pengembangan data center. Indonesia pun dinilai memiliki peluang karena memiliki beragam sumber energi bersih termasuk panas bumi.
Dari sisi lokasi, ia bilang pembangunan data center saat ini memang banyak terkonsentrasi di Pulau Jawa dan Batam. Pasalnya, infrastruktur energi, konektivitas, dan ketersediaan talenta di wilayah tersebut sudah lebih siap.
Ke depannya, menurut Hendra, Indonesia memiliki peluang menjadi pusat data center regional apabila mampu mengintegrasikan energi, konektivitas, keamanan digital, hingga talenta atau sumber daya manusia.
"Indonesia sangat bisa menjadi hub untuk Asia Tenggara bahkan Asia Pasifik," imbuhnya.
Baca Juga: PLN Ungkap Pesanan Listrik Data Center Kini Tembus 1-3 GW per Proyek
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














