Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT PLN Indonesia Power siap mendukung pengembangan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). Langkah terbaru, PLN Indonesia Power bersama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) telah menandatangani Letter of Intent (LoI) untuk pembelian tenaga listrik dari dua proyek panas bumi dengan total kapasitas 45 Megawatt (MW).
Direktur Utama PLN Indonesia Power, Bernadus Sudarmanta menjelaskan kerja sama tersebut mencakup pengembangan PLTP Lahendong Binary berkapasitas 15 MW di Sulawesi Utara dan PLTP Ulubelu Binary dengan kapasitas 30 MW di Provinsi Lampung. Bernadus pun menegaskan komitmen PLN Indonesia Power untuk mendorong optimalisasi potensi panas bumi di Indonesia menjadi energi bersih yang andal.
“Indonesia memiliki potensi panas bumi yang sangat besar. Melalui kolaborasi PLN Indonesia Power dan PGE pada Lahendong dan Ulubelu, kami ingin mengoptimalkan potensi tersebut menjadi energi bersih yang andal sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional,” kata Bernadus melalui rilis yang disiarkan pada Jumat (21/8/2026).
Baca Juga: MUTU Dorong Penguatan Standar Ekonomi Hijau, Potensi Greenomics Capai Miliaran Dolar
Bernadus menambahkan, kedua proyek PLTP tersebut memanfaatkan teknologi bottoming untuk mengolah dan memanfaakan panas dari fluida panas bumi (brine) yang belum termanfaatkan untuk dijadikan tambahan energi listrik bersih dari pembangkit geothermal eksisting.
Langkah tersebut menjadi bentuk optimalisasi potensi sumber daya panas bumi pada lapangan WKP eksisting, sekaligus meningkatkan kapasitas pembangkitan tanpa sepenuhnya bergantung pada pengembangan sumber lapangan WKP baru. Adapun, dalam pipeline perencanaan kerja sama strategis tersebut, total potensi kapasitas pengembangan dapat mencapai 230 MW.
Sebagai bagian dari upaya pemanfaatan energi panas bumi, Bernadus menyatakan percepatan transisi energi membutuhkan kolaborasi lintas pemangku kepentingan. “Sinergi antara PLN, PLN Indonesia Power, PGE, pemerintah, investor, dan seluruh pelaku industri menjadi kunci untuk mempercepat hadirnya pembangkit bersih yang andal dan berkelanjutan,” tambah Bernadus.
Penandatanganan LoI antara PLN Indonesia Power dan PGEO berlangsung dalam rangkaian The 12th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026. Penandatanganan dilakukan pada 19 Agustus 2026 oleh Direktur Utama PLN Indonesia Power Bernadus Sudarmanta dan Direktur Utama PGEO Ahmad Yani.
Dalam agenda tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mendorong percepatan pengembangan, serta menyoroti pentingnya kolaborasi pemerintah dan pelaku usaha dalam pengembangan panas bumi. “Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri, begitu juga dunia usaha. Kuncinya adalah kolaborasi. Ketika regulator, PLN, pengembang, dan seluruh pemangku kepentingan bergerak bersama, saya yakin kekayaan panas bumi Indonesia dapat kita optimalkan menjadi energi bersih yang andal dan menjadi kekuatan di masa depan," ungkap Bahlil.
Adapun, 2026 menjadi momentum 100 tahun panas bumi di Indonesia sejak pengeboran pertama di Kamojang. Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menyoroti karakter geothermal yang mampu memasok listrik 24 jam, yang menjadi salah satu keunggulan dari pemanfaatan energi panas bumi.
"Seratus tahun sejak pengeboran pertama dilakukan pada 1926, uapnya masih mengalir dan terus memberi manfaat bagi negeri. Dari Kamojang, kita melihat bahwa geothermal memiliki kekuatan untuk menjadi energi bersih yang andal, berkelanjutan, dan menjadi bagian penting dalam perjalanan Indonesia menuju kemandirian energi,” kata Eniya.
Baca Juga: Asap Karhutla Makin Parah, Kemenhub: Sejumlah Penerbangan di Kalimantan Terganggu
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














