CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.632.000   22.000   0,84%
  • USD/IDR 17.880   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.340   108,24   1,74%
  • KOMPAS100 839   16,49   2,00%
  • LQ45 637   8,89   1,42%
  • ISSI 218   3,63   1,69%
  • IDX30 358   3,90   1,10%
  • IDXHIDIV20 444   3,51   0,80%
  • IDX80 96   1,59   1,69%
  • IDXV30 119   0,82   0,69%
  • IDXQ30 115   1,03   0,91%

PLN Siapkan Kontrak Jangka Panjang Proyek PSEL, Durasi Jual-Beli Listrik 30 Tahun


Selasa, 21 Juli 2026 / 17:39 WIB
PLN Siapkan Kontrak Jangka Panjang Proyek PSEL, Durasi Jual-Beli Listrik 30 Tahun
ILUSTRASI. PLN siap mendukung proyek PSEL melalui kepastian skema kontrak PPA jangka panjang dengan durasi 30 tahun. (Dok/PLN)


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT PLN (Persero) menyatakan kesiapan untuk mendukung proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) melalui kepastian skema kontrak jual-beli listrik atau Power Purchase Agreement (PPA). PLN siap menjalankan skema PPA jangka panjang dengan durasi 30 tahun.

Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN, Suroso Isnandar menilai program PSEL menjadi angin segar bagi ekosistem ketenagalistrikan dan pengelolaan lingkungan. Suroso menyatakan bahwa PLN siap menyerap daya listrik yang diproduksi oleh para mitra guna memperkuat portofolio sumber energi primer secara optimal.

"Kami memberikan jaminan kepada para mitra bahwa listrik yang dihasilkan akan diambil oleh PLN sebagai offtaker. Para mitra tidak perlu khawatir, komitmen jangka panjang PLN sudah teruji di berbagai sektor pembangkit lainnya yang bahkan memiliki PPA lebih dari 30 tahun. Jaminan ini akan terjaga dengan sangat baik," ujar Suroso melalui keterangan tertulis yang disiarkan pada Selasa (21/7/2026).

Baca Juga: Dorong Wisatawan RI ke Singapura, TransNusa & STB Hadirkan Tarif Penerbangan Spesial

Suroso berharap proyek PSEL tidak hanya sekadar menjadi solusi dalam mengatasi status darurat sampah di berbagai daerah. Tetapi juga bisa sekaligus menjadi langkah taktis dalam mempercepat transisi Energi Baru Terbarukan (EBT) PLN untuk mengejar target Net Zero Emissions (NZE) pada tahun 2060.

"Dalam konteks transisi energi dari berbasis termal ke EBT, PSEL menambah portofolio sumber energi kami sekaligus mengatasi darurat sampah. Karena itu, jika perlu program ini diterapkan di semua kota di Indonesia, PLN sangat siap," tegas Suroso.

Sebagai informasi, skema dalam proyek PSEL didukung oleh Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 Tahun 2025. Proyek-proyek PSEL yang akan digarap bersama Danantara Indonesia ini memiliki tarif listrik seharga US$ 0,20 per kilowatt-hour (kWh).

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan menegaskan bahwa pemerintah telah melakukan penyederhanaan regulasi pembangunan proyek PSEL. Langkah ini dilakukan untuk mempercepat penanganan persoalan sampah perkotaan, sekaligus memberikan kepastian ruang berusaha yang kondusif bagi para investor.

"Regulasi diperbaiki. Dari ratusan tinggal tiga aturan. Kalau ada hambatan, saya tinggal undang. Kalau masih tidak bisa saya atasi, saya lapor. Presiden yang memimpin," ujar Zulkifli.

Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat menambahkan bahwa reduksi emisi dari tata kelola sampah ini tidak hanya menyelesaikan masalah lingkungan, melainkan juga membuka peluang ekonomi baru melalui pasar perdagangan karbon nasional.

Jumhur menjelaskan, keberhasilan daerah dalam menekan emisi gas rumah kaca dari sektor limbah akan dikonversi menjadi komoditas bernilai tinggi yang diakui secara legal oleh negara.

Baca Juga: Industri Panel Kayu Tertekan Geopolitik, IFII Hadapi Lonjakan Biaya Produksi

"Begitu mengurangi emisi 20 juta ton, ya mungkin Rp 100 miliar - Rp 150 miliar bisa dapat karena dijual di pasar karbon. Telah berhasil mengurangi emisi sekian juta atau sekian giga ton ekuivalen CO2, maka dijual ke pasar karbon. Nanti, dari KLHK akan dapat Sertifikat Pengurangan Emisi Indonesia dan itu dijual di pasar karbon," tutur Jumhur.

Chief Investment Officer BPI Danantara Pandu Sjahrir membeberkan, tingginya antusiasme pasar terhadap proyek PSEL. Proyek yang diklaim sebagai pengelolaan sampah menjadi energi terbesar di dunia ini disebut menarik minat besar dari berbagai institusi finansial dan investor global untuk menanamkan modal.

"Alhamdulillah banyak sekali interest baik dari luar negeri dan juga dari dalam negeri, dan ini malah banyak juga nonbank himbara yang ingin masuk. Artinya semua partisipan semangat masuk. Jadi, proyek ini secara akumulatif memang proyek waste to energy terbesar di dunia, makanya untuk orang yang berpartisipasi investment berlomba-lomba untuk hadir ke sini. Alhamdulillah antusiasmenya amat tinggi," ujar Pandu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×