kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.614.000   8.000   0,31%
  • USD/IDR 17.940   -67,00   -0,37%
  • IDX 6.176   67,33   1,10%
  • KOMPAS100 814   12,72   1,59%
  • LQ45 622   13,33   2,19%
  • ISSI 212   0,39   0,18%
  • IDX30 351   8,04   2,34%
  • IDXHIDIV20 438   9,47   2,21%
  • IDX80 93   1,54   1,68%
  • IDXV30 117   0,44   0,38%
  • IDXQ30 113   2,94   2,65%

PLTA Batangtoru Diklaim Perkuat Kelistrikan Sumatra & Pangkas Emisi 1,9 Juta Ton CO2


Sabtu, 18 Juli 2026 / 22:52 WIB
PLTA Batangtoru Diklaim Perkuat Kelistrikan Sumatra & Pangkas Emisi 1,9 Juta Ton CO2
ILUSTRASI. PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) - PLTA Batangtoru (Dok/PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE))


Reporter: Leni Wandira | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) menyatakan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batangtoru tidak hanya bertujuan menambah pasokan energi baru terbarukan (EBT), tetapi juga meningkatkan keandalan sistem kelistrikan di Sumatra.

Perusahaan memperkirakan, beroperasinya PLTA Batangtoru mampu menurunkan emisi karbon dioksida (CO2) hingga 1,9 juta ton per tahun pada sistem interkoneksi Sumatra yang saat ini masih didominasi pembangkit berbahan bakar fosil, terutama batu bara.

Baca Juga: VinFast Resmi Garap Pasar Motor Listrik RI, Luncurkan Tiga Model Mulai Rp 17,5 Juta

Manager Design Construction PT NSHE Arwan Kahfi mengatakan, PLTA Batangtoru dikembangkan dengan teknologi run-of-river, yakni memanfaatkan aliran Sungai Batang Toru sebagai sumber energi utama.

Teknologi tersebut dipadukan dengan sistem daily pondage atau kolam tandon harian, sehingga pembangkit dapat menghasilkan kapasitas listrik yang besar dengan kebutuhan waduk yang relatif lebih kecil.

Menurut Arwan, salah satu keunggulan PLTA Batangtoru adalah memiliki kemampuan high ramping rate, yakni kemampuan meningkatkan output daya secara cepat ketika sistem kelistrikan membutuhkan tambahan pasokan.

"Melalui pendekatan ini, PT NSHE tidak hanya menghadirkan pembangkit yang mendukung penyediaan energi baru terbarukan, tetapi juga mampu memenuhi kebutuhan sistem kelistrikan melalui karakter pembangkit yang responsif. Kemampuan high ramping rate memungkinkan pembangkit segera beroperasi saat dibutuhkan, sehingga berperan dalam menopang keandalan dan stabilitas sistem kelistrikan," ujar Arwan dalam keterangannya, Sabtu (18/7/2026).

Baca Juga: Gangguan Keamanan Ancam Produksi Migas, Industri Dituntut Ubah Paradigma Pengamanan

Ia menjelaskan, karakteristik tersebut menjadi penting bagi sistem interkoneksi Sumatra, terutama ketika jaringan membutuhkan tambahan pasokan listrik dalam waktu singkat.

Menurutnya, peristiwa pemadaman listrik (blackout) yang terjadi di Sumatra pada akhir Mei lalu menjadi gambaran pentingnya keberadaan pembangkit yang mampu mempercepat proses pemulihan sistem, selain didukung oleh keandalan jaringan transmisi.

Arwan menambahkan, penerapan sistem run-of-river dengan pengaturan harian juga memungkinkan penggunaan waduk yang lebih kecil karena tidak berfungsi sebagai waduk tahunan.

Pendekatan tersebut dinilai tetap mampu menghasilkan kapasitas pembangkitan yang optimal sekaligus mengedepankan aspek keselamatan dan pengendalian risiko operasional.

Baca Juga: Indonesia Punya Potensi Biomassa Sawit Terbesar di Dunia, Hilirisasi Jadi Kunci

Perhatikan aspek lingkungan

Selain aspek teknis, NSHE menyatakan pembangunan PLTA Batangtoru juga dilakukan dengan mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosial agar proyek dapat berjalan secara bertanggung jawab dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat sekitar.

Arwan mengatakan pengembangan PLTA Batangtoru merupakan bagian dari upaya menyediakan pembangkit EBT yang mampu menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi dan pelestarian lingkungan.

"Pengembangan PLTA Batangtoru menjadi bagian dari upaya menghadirkan energi baru terbarukan yang bertanggung jawab, berkelanjutan, serta memperhatikan keseimbangan antara pembangunan dan lingkungan. Dalam sistem interkoneksi Sumatra yang masih didominasi pembangkit fosil, khususnya batu bara, kehadiran PLTA Batangtoru dapat menurunkan emisi gas CO2 hingga 1,9 juta ton per tahun," katanya.

Baca Juga: AREBI Genjot Sertifikasi Broker Properti

Ke depan, NSHE berharap keberadaan PLTA Batangtoru dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pengembangan pembangkit listrik tenaga air, mulai dari kesiapan operasional, penerapan standar keselamatan, hingga komitmen perusahaan dalam menyediakan energi bersih yang andal untuk mendukung penguatan sistem kelistrikan nasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×