kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.581.000   -14.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.992   80,00   0,45%
  • IDX 6.010   -61,64   -1,02%
  • KOMPAS100 774   -11,44   -1,46%
  • LQ45 592   -8,80   -1,46%
  • ISSI 208   -2,25   -1,07%
  • IDX30 328   -4,71   -1,41%
  • IDXHIDIV20 419   -5,32   -1,25%
  • IDX80 88   -1,32   -1,47%
  • IDXV30 114   -0,94   -0,82%
  • IDXQ30 107   -1,23   -1,13%

PLTP Gunung Ungaran 55 MW Masih Dikaji, Ini Penjelasan Soal Kebutuhan Air


Kamis, 01 Oktober 2026 / 19:13 WIB
PLTP Gunung Ungaran 55 MW Masih Dikaji, Ini Penjelasan Soal Kebutuhan Air
ILUSTRASI. PGEO Eksekusi Kontrak Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3, Siap Masuk Tahap Pengeboran (Dok/Pertamina Geothermal Energy (PGEO))


Sumber: Kompas.com | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Rencana pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Ungaran berkapasitas sekitar 55 megawatt (MW) dinilai tidak akan membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar saat pembangkit beroperasi.

Hal ini menjadi salah satu aspek penting dalam menilai dampak lingkungan proyek yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2031.

Dosen Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (Undip) Yoga Aribowo menjelaskan, kebutuhan air terbesar dalam pengembangan panas bumi justru berada pada tahap pengeboran.

Setelah pembangkit beroperasi, kebutuhan air lebih banyak digunakan untuk keperluan domestik dan fasilitas pendukung.

“Setelah memproduksi listrik, kebutuhan airnya tidak akan signifikan,” kata Yoga, Kamis (1/10/2026).

Baca Juga: PGE (PGEO) Mulai Bor Sumur Kedua PLTP Lumut Balai Unit 3, Target Rampung 40 Hari

Menurut Yoga, kebutuhan air pada tahap pengeboran dapat mencapai sekitar 100–200 meter kubik per hari, tergantung kedalaman dan kondisi pengeboran.

Kebutuhan tersebut, menurut dia, dapat direncanakan dengan memanfaatkan sumber air yang tidak digunakan masyarakat.

Salah satu opsi yang dapat digunakan adalah mengambil air dari akuifer dalam atau menampung air terlebih dahulu melalui kolam penampungan. Skema tersebut diperlukan untuk menjaga kualitas dan kuantitas sumber air yang selama ini digunakan masyarakat.

Di sisi lain, Yoga menjelaskan sekitar 95% fluida yang diproduksikan dari reservoir panas bumi berupa air.

Fluida tersebut juga membawa sejumlah mineral terlarut, seperti natrium, kalium, magnesium, klorida, sulfat dan bikarbonat, serta unsur litium dan boron dalam konsentrasi lebih rendah.

Karena itu, fluida panas bumi perlu dikelola melalui proses pengolahan dan reinjeksi agar tidak memengaruhi kualitas air permukaan maupun air dekat permukaan. Secara hidrologis, reservoir panas bumi dan akuifer air tanah juga merupakan sistem yang berbeda.

Baca Juga: Pemerintah Kejar Pemulihan PLTP Sarulla, Siapkan Investasi US$ 160 Juta

Dari sisi ketenagalistrikan, pengembangan PLTP Gunung Ungaran berpotensi menambah pasokan listrik berbasis energi panas bumi sekaligus meningkatkan porsi pembangkit dengan emisi karbon lebih rendah.

Yoga memperkirakan emisi PLTP berada di kisaran 100 gram CO2 per kilowatt hour (kWh), jauh lebih rendah dibandingkan PLTU berbahan bakar batubara yang mencapai sekitar 900 gram CO2 per kWh.

Dengan kapasitas yang direncanakan sekitar 55 MW, PLTP Gunung Ungaran dapat menjadi tambahan pasokan listrik sekaligus bagian dari upaya mengurangi emisi sektor ketenagalistrikan apabila menggantikan sebagian pembangkit berbasis batubara.

Namun, pengembangan proyek tetap membutuhkan kajian bertahap untuk memastikan aspek teknis, lingkungan dan kepentingan masyarakat dapat berjalan beriringan.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelumnya menyatakan pengembangan panas bumi Gunung Ungaran masih berada pada tahap eksplorasi dan studi kelayakan.

Baca Juga: Pertamina Geothermal (PGEO) Garap 9 Proyek, Ekspansi PLTP Hingga Green Data Center

Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia mengatakan setiap tahapan proyek harus didasarkan pada data, kajian teknis, aspek lingkungan, perizinan serta pertimbangan sosial masyarakat.

Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, PLTP Gunung Ungaran direncanakan memiliki kapasitas sekitar 55 MW dengan target operasi pada 2031.

Sumber: https://money.kompas.com/read/2026/10/01/164734226/potensi-kapasitas-55-mw-pltp-gunung-ungaran-dinilai-tak-butuh-banyak-air?page=all#page2. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×