kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45874,12   -12,06   -1.36%
  • EMAS1.329.000 -0,67%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

PPAK Sebut Indonesia Bisa Jadi Kiblat Kosmetik Halal Dunia, Ini Alasannya


Jumat, 21 Juli 2023 / 18:55 WIB
PPAK Sebut Indonesia Bisa Jadi Kiblat Kosmetik Halal Dunia, Ini Alasannya
ILUSTRASI. Suasana pameran Cosmobeaute Indonesia di Jakarta Convention Centre, Kamis (3/11/2022).


Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri kosmetik membuktikan ketahananya melewati pandemi Covid-19. Tengok saja, melansir data Statista, pendapatan di pasar Kecantikan dan Perawatan Pribadi atau Personal Care di Indonesia bisa mencapai US$8,09 miliar hingga akhir tahun 2023.

Ketua Umum Perhimpunan Perusahaan dan Asosiasi Kosmetika Indonesia (PPAK) Solihin Sofian menyebut, pasar industri kecantikan semakin setelah masuk masa endemi.

Apalagi jika melihat data secara global, perkembangan industri kecantikan dan farmasi Indonesia menempati peringkat ke-9 di dunia. Data tersebut menunjukkan besarnya potensi dan peluang dalam industri kosmetika, tidak hanya di dalam negeri namun juga di luar negeri.

“Dengan modal itu, Indonesia harus bisa menjadi pusat kosmetik halal dunia. Karena mayoritas penduduk Indonesia itu kan beragama Islam,” ungkapnya saat dihubungi Kontan.co.id, Jumat (21/07).

Baca Juga: Makin Menjamur, Industri Kecantikan Tembus 1.000 Perusahaan

Solihin juga mengungkap dirinya optimistis tahun depan akan bertambah lagi pelaku di industri kosmetik Indonesia. Karena masyarakat, tidak hanya masyarakat Indonesia tapi juga masyarakat dunia saat ini menggandrungi kosmetik yang mampu menawarkan produk dengan bahan baku alami.

“Jadi lebih tertarik pada produk yang menampilkan back to nature (kembali ke alam),” ungkap dia.

Selain menjadi kiblat kosmetik halal, Solihin menyebut dengan kuantitas masyarakat Indonesia yang besar, yaitu 40% dari jumlah keseluruhan penduduk Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), kebutuhan kosmetik di ASEAN juga bisa dipenuhi oleh Indonesia.

“Inilah alasan kenapa sampai saat ini ada 1.773 pemilik badan usaha modifikasi (franchise) kosmetik, artinya kreatifitas bangsa kita ini di bidang kosmetik terutama, luar biasa sekali,” jelasnya.

Untuk diketahui, berdasarkan data yang diunggah Statista tahun 2023, Industri Kosmetik dibagi menjadi menjadi lima segmen, yaitu bagian kosmetik, skin care, personal care, parfum dan teknologi kecantikan.

Dari kelima segmen ini, di Indonesia empat diantaranya mengalami kenaikan pendapatan dari tahun 2022 hingga 2023.

Untuk segmen kosmetik (kosmetik wajah, bibir, mata, kuku hingga kosmetik alami) pendapatan per segmen Tahun 2022 ke tahun 2023 mengalami peningkatan dari US$ 1,61 miliar menjadi US$ 1,85 miliar.

Baca Juga: Rangkaian Skincare untuk Kulit Berjerawat dengan Harga Terjangkau

Untuk segmen skincare (wajah, badan, tabir surya hingga perawatan bayi dan anak) pendapatan Tahun 2022 sebesar US$ 2,05 miliar pada tahun 2023 menjadi US$ 2,26 miliar.

Kemudian segmen personal care (perawatan rambut, sabun mandi, perawatan mulut, deodoran, shaving foam) meningkat dari US$ 3,18 miliar menjadi US$ 3,41 miliar.

Untuk bagian parfum pendapatan per segmen Tahun 2022 ke tahun 2023 juga mengalami peningkatan dari US$ 0,14 miliar menjadi US$ 0,43 miliar.

Sementara untuk teknologi kecantikan, kenaikan tidak terlalu terlihat dari tahun 2022 ke 2023. Pendapatan tetap pada nilai US$ 0,14 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×