kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

PPSKI: Belum ada program matang swasembada sapi


Selasa, 24 Mei 2016 / 18:34 WIB
PPSKI: Belum ada program matang swasembada sapi

Reporter: Noverius Laoli | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Keputusan Kementerian Pertanian (Kemtan) mengimpor sperma sapi dari Spanyol membuktikan Kemtan belum memiliki konsep matang soal swasembada sapi.

Asosiasi Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) menilai, berbagai upaya yang dilakukan Kemtan untuk mengembangkan sapi lokal bukanlah hal yang baru dan pernah dilakukan. Tapi sampai sekarang, Indonesia gagal swasembada sapi.

Teguh Boediana, Ketua Umum PPSKI mengatakan kerap berubahnya teknis pengembangan sapi lokal dari Kemtan menggambarkan Ditjen Peternakan Kemtan belum memiliki konsep breeding sapi yang matang.

Ia pun merasa pesimistis Kemtan serius dalam pengembangan sapi dalam negeri. Sebagai bukti, Kemtan tidak fokus menjalankan satu program yang sudah matang. Justru ke depan, konsep pengembangan sapi berubah lagi, dan pada akhirnya, swasembada sapi tak pernah tercapai.

"Impor sperma sapi sudah dilakukan sebelumnya, tapi toh belum menjamin akan berhasil, apalagi kalau menutup peluang impor sapi indukan," ujarnya kepada KONTAN, Selasa (24/5).

Selain itu, Teguh bilang, impor semen beku dari Spanyol ini tidak serta merta jadi solusi pengembangan sapi dalam negeri dan mampu menggantikan impor sapi indukan yang sudah dijalankan selama ini. Pasalnya, semen beku yang diimpor juga belum jelas akan menghasilkan sapi betina atau sapi jantan. Ia lebih merekomendasikan agar pemerintah mengembangkan sapi unggulan dalam negeri seperti sapi Bali dan sapi Ongole.

Dalam beberapa tahun terakhir, impor sapi indukan yang dilakukan Kemtan tidak pernah maksimal. Selain karena tidak bisa memenuhi target impor sapi indukan, pemeliharaan dan pengembangan sapi indukan dalam negeri juga belum maksimal, sehingga banyak yang mati.

Rencana impor sapi indukan yang sempat ditargetkan 50.000 ekor tahun ini pun diturunkan setengahnya menjadi 25.000 ekor. Sampai saat ini, belum ada penjelasan bagaimana realisasinya.




TERBARU

Close [X]
×