kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.122.000   -13.000   -0,41%
  • USD/IDR 16.902   8,00   0,05%
  • IDX 7.940   -77,07   -0,96%
  • KOMPAS100 1.111   -13,95   -1,24%
  • LQ45 806   -6,90   -0,85%
  • ISSI 283   -3,09   -1,08%
  • IDX30 427   -2,07   -0,48%
  • IDXHIDIV20 519   1,40   0,27%
  • IDX80 125   -1,34   -1,06%
  • IDXV30 141   0,27   0,19%
  • IDXQ30 137   -0,41   -0,30%

Produksi Beras Awal 2026 Turun Tipis, Pengamat Soroti Pola Panen dan Kompetisi Lahan


Selasa, 03 Maret 2026 / 16:13 WIB
Produksi Beras Awal 2026 Turun Tipis, Pengamat Soroti Pola Panen dan Kompetisi Lahan


Reporter: Hervin Jumar | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Produksi beras nasional pada periode Januari-April 2026 diproyeksikan mencapai 13,98 juta ton, turun tipis 0,18% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 14,01 juta ton.

Pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori, menilai penurunan awal tahun ini tidak lepas dari pola panen yang kembali normal.

“Tahun lalu terjadi anomali karena puncak panen berlangsung dua bulan, yakni Maret dan April. Tahun ini, puncak panen cenderung hanya satu bulan seperti pola historis sebelumnya,” kata Khudori kepada Kontan, Selasa (3/3/2026).

Menurutnya, angka produksi Februari–April masih perkiraan sehingga sangat mungkin mengalami koreksi. Sepanjang 2026, ia memperkirakan produksi tetap baik, tetapi berpotensi lebih rendah dibandingkan realisasi 2025 yang mencapai 34,71 juta ton.

Perluasan fokus komoditas di Kementerian Pertanian dinilai memicu kompetisi anggaran, sumber daya, dan lahan sawah yang terbatas sekitar 7,38 juta hektare.

Di tengah proyeksi penurunan tipis produksi, pemerintah memastikan ketersediaan beras nasional dalam kondisi aman.

Baca Juga: Ramadan Datang, Beras dan Minyakita Masih Mahal, APPSI Soroti Distribusi

Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Amran Sulaiman, menyebut neraca pangan hingga April 2026 menunjukkan sebagian besar komoditas strategis berada dalam posisi surplus yang kuat.

Ia memaparkan, stok beras nasional saat ini sekitar 3,5 juta ton dan diperkirakan terus bertambah seiring masuknya panen raya serta tren kenaikan produksi sekitar 15% hingga Maret.

Jika tren tersebut berlanjut hingga akhir bulan, cadangan beras berpotensi menembus 6 juta ton dan bahkan berpotensi surplus hingga sekitar 9 juta ton pada akhir tahun.

"Kalau tren ini bertahan sampai akhir bulan, hampir pasti stok kita tembus 6 juta ton. Ini belum pernah terjadi selama kita merdeka, Kalau konsisten hingga akhir tahun, potensi surplus diperkirakan bisa mencapai sekitar 9 juta ton. Kami pastikan stok beras nasional dalam kondisi surplus. Beras kita sangat kuat menjaga stabilitas pasokan dan harga di masyarakat," tutur  Amran dalam keterangan resmi, Senin (2/3/2026).

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) menegaskan angka produksi Januari–April 2026 masih bersifat potensi dan dapat berubah sesuai perkembangan kondisi di lapangan.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan produksi beras Januari–April 2026 diperkirakan 13,98 juta ton atau turun 0,02 juta ton dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 14,01 juta ton.

Baca Juga: Harga Beras Premium Tembus Rp 15.000 per Kg, Cabai Rawit Ikut Meroket

“Produksi beras sepanjang Januari—April 2026 mencapai 13,98 juta ton atau mengalami penurunan 0,02 juta ton atau menurun 0,18% jika dibandingkan periode sebelumnya pada tahun 2025,” kata Ateng di kantor BPS, Senin (2/3/2026).

Ia menjelaskan, secara rinci produksi Januari diproyeksikan 1,75 juta ton, Februari 2,95 juta ton, Maret 5,31 juta ton, dan April 3,98 juta ton. Sementara produksi padi dalam bentuk gabah kering giling (GKG) diperkirakan mencapai 24,28 juta ton atau turun 0,18% secara tahunan, dengan luas panen menyusut tipis 0,20% menjadi 4,48 juta hektare.

Namun, Ateng menegaskan potensi tersebut masih dapat berubah bergantung pada dinamika pertanaman di lapangan.

“Berubah ini tergantung pada kondisi pertanaman sepanjang nanti pada bulan Februari-April 2026. Seperti ketika nanti ada serangan hama ataupun organisme pengganggu tanaman atau OPT, ini akan terjadi perubahan tentunya. Ketika nanti ada banjir, kekeringan, serta juga waktu pelaksanaan panennya oleh petani yang berubah,” pungkasnya.

Baca Juga: Kebijakan Beras Diuji: Harga Gagal Turun, El Nino Siap Menerjang

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026 Mastering Strategic Management for Sustainability

[X]
×