kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45995,22   -1,54   -0.15%
  • EMAS977.000 -0,20%
  • RD.SAHAM -0.07%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.07%

Produksi jeruk lokal terus naik, Indonesia tak perlu impor besar


Minggu, 13 Mei 2018 / 13:23 WIB
Produksi jeruk lokal terus naik, Indonesia tak perlu impor besar
ILUSTRASI. Pedagang Buah di Pasar Palmerah Jakarta


Reporter: Tane Hadiyantono | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - PEKANBARU. Kedatangan Perdana Menteri China Li Keqiang ke Indonesia tempo hari menyampaikan keinginannya kepada pemerintah Indonesia untuk melonggarkan izin impor jeruk mandarin. Namun mengingat angka produksi jeruk lokal Indonesia masih stabil, putusan melonggarkan impor jeruk mandarin nampaknya masih jauh.

Sarwo Edhi Direktur Buah dan Bunga Direktorat Hortikultura Kementerian Pertanian mengatakan tingginya impor jeruk mandarin dengan ciri khas warna oranye sebenarnya dikarenakan Indonesia tidak memiliki lokasi tanam yang cocok. Namun demikian pemerintah telah berusaha mengembangkan kawasan perkebunan jeruk dengan varietas yang moderat dan mendekati preferensi pasar saat ini dengan tampilan yang lebih menarik dan rasa lebih manis sesuai lidah masyarakat Indonesia pada umumnya.

"Jeruk mandarin sebenarnya tampilannya saja yang begitu menarik padahal rasanya lebih didominasi dengan rasa kecut atau masam yang kurang diminati untuk konsumen secara umum," kata Sarwo kepada Kontan.co.id, Kamis (8/5).

Apalagi, jumlah produksi jeruk lokal terus naik, dimana tahun 2017 produksi jeruk mencapai 2,17 juta ton dengan stok impor sebanyak 79.333 alias 3,66% dari total produksi nasional. Produksi jeruk nasional 2017 naik 1,25% dari setahun sebelumnya.

Sedangkan target produksi tahun 2018 ini bakal mencapai 2,17 juta ton dan impor sebanyak 16.237 ton alias 0,74% total produksi nasional. Sehingga kebutuhan impor jeruk, baik Mandarin, Pakistan maupun varietas lainnya seharusnya bisa terus dikurangi. 

Namun kesempatan membuka keran impor jeruk Mandarin, menurut Sarwo bisa saja terjadi bila pemerintah menerapkan langkah seperti saat membuka kesempatan impor jeruk Pakistan.

"Itu merupakan keputusan politik yang bisa diambil pemerintah, sama halnya dengan saat membuka impor jeruk Pakistan saat mereka membeli minyak sawit dari kita, tapi presentasinya kecil jadi tidak masalah," kata Sarwo.

Realisasi impor jeruk hingga Februari 2018 telah mencapai 16.237 ton, merosot jauh dibandingkan periode sama setahun sebelumnya di 33.283 ton. Dengan begitu, Sarwo melihat upaya pemerintah dan petani buah dalam meningkatkan produksi nasional dan mengurangi potensi impor buah jeruk telah berhasil dan sebaiknya tetap dipertahankan.

Ketua 1 Asosiasi Eksportir Importir Buah dan Sayuran Segar Indonesia (Aseibssindo) Eddy Simon juga bilang, impor jeruk saat itu memang tidak banyak karena aturan pemerintah dan untuk meningkatkan produksi lokal.

Oleh karena itu, ketimbang membuka keran impor buah, menurutnya lebih baik bagi pemerintah untuk mulai menguatkan produk dalam negeri. Salah satunya adalah dengan mencari solusi untuk pengusaha eksportir buah Indonesia yang masih terkendala oleh urusan logistik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×