kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.631.000   29.000   1,11%
  • USD/IDR 16.873   27,00   0,16%
  • IDX 8.956   19,31   0,22%
  • KOMPAS100 1.237   7,66   0,62%
  • LQ45 873   4,55   0,52%
  • ISSI 326   1,60   0,49%
  • IDX30 442   2,51   0,57%
  • IDXHIDIV20 520   3,34   0,65%
  • IDX80 138   0,91   0,67%
  • IDXV30 145   1,15   0,80%
  • IDXQ30 142   1,14   0,82%

Target Industri Keramik Tahun 2026: Utilisasi 80%, Volume Produksi 537 Juta M²


Senin, 12 Januari 2026 / 08:19 WIB
Target Industri Keramik Tahun 2026: Utilisasi 80%, Volume Produksi 537 Juta M²
ILUSTRASI. Program 3 Juta Rumah ternyata menjadi penentu nasib utilisasi keramik nasional. Target awal 80% bisa melonjak drastis. Simak potensi kenaikannya


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) memproyeksikan tingkat utilisasi dan volume produksi akan kembali mendaki pada tahun ini. Asaki menargetkan tingkat utilisasi industri keramik nasional pada 2026 akan menyentuh level 80%.

Ketua Umum Asaki, Edy Suyanto menjelaskan dengan estimasi tingkat utilisasi tersebut, volume produksi akan terdongkrak sebanyak 13,17% menjadi sekitar 537 juta m². Edy bilang, tren kenaikan tingkat utilisasi tampak dari performa pada akhir tahun 2025.

Pada kuartal IV-2025, rata-rata utilisasi naik secara bulanan dari Oktober (75%), November (76%) dan Desember (78%). Asaki bahkan melihat tingkat utilisasi berpotensi menembus level 90%, apabila permintaan dari pasar dalam negeri naik cukup signifikan.

Pasar domestik memang menjadi andalan para produsen keramik, lantaran kontribusi dari ekspor masih mini, yakni sekitar 3% - 4% dari total produksi. Edy pun menyoroti Program 3 juta unit rumah.

Baca Juga: Nasib Industri Kaca di 2026: Utang Daya Beli & Ancaman Gas Mahal

Apabila realisasi program tersebut sesuai target, maka berpotensi mendongkrak utilisasi keramik hingga ke level 96%. "Asaki mengharapkan realisasi Program 3 juta unit rumah di tahun 2026, yang bisa mendongkrak kenaikan tingkat utilisasi produksi secara signifikan dari target 80% ke angka 96%," terang Edy kepada Kontan.co.id beberapa hari lalu.

Hanya saja, Edy memberikan catatan bahwa ada sederet tantangan yang masih membayangi industri keramik nasional. Kendala tersebut membuat tingkat utilisasi industri keramik nasional belum optimal.

Capaian & Tantangan Industri Keramik 2025

Tingkat utilisasi dan volume produksi industri keramik membaik pada tahun lalu. Rata-rata utilisasi meningkat dari 66% pada tahun 2024 menjadi 73% pada 2025. Peningkatan utilisasi ini mendongkrak volume produksi sekitar 62 juta m² menjadi 474,5 juta m² sepanjang tahun lalu.

Hasil itu mencerminkan pertumbuhan sekitar 15% dibandingkan tahun sebelumnya. "Sebagai catatan, Indonesia adalah satu-satunya negara produsen keramik baik di Asia, Eropa maupun Amerika yang mampu mencatat pertumbuhan tingkat utilisasi produksi dan kapasitas produksi pada tahun 2025," kata Edy.

Edy menyoroti sejumlah faktor yang mendorong kinerja industri keramik pada tahun 2025, terutama dukungan dari kebijakan pro-industri yang menahan derasnya produk impor. Kebijakan proteksi tersebut mencakup anti-dumping, safeguard keramik dan Standar Nasional Indonesia (SNI) Wajib.

Kebijakan proteksi untuk industri keramik telah memantik skema kerja sama Original Equipment Manufacturing (OEM) antara importir dengan produsen keramik lokal. Skema OEM membawa para importir bekerja sama dengan pabrik dalam negeri untuk memproduksi keramik dengan merek sendiri.

Baca Juga: Alfamart Tancap Gas! Sumber Alfaria (AMRT) Target 800 Gerai Baru di Tahun 2026

Meski meningkat ketimbang capaian tahun 2024, tapi tingkat utilisasi industri keramik pada 2025 masih belum optimal sesuai rentang target Asaki pada level 70% - 75%. Edy pun menyoroti persoalan pasokan dan harga gas industri.

Kendala yang menjadi sorotan adalah keadaan kahar (force majeure) yang membuat pasokan gas di Jawa Bagian Barat tersendat pada pertengahan hingga akhir Agustus 2025.

Edy mengungkapkan, rata-rata industri keramik yang menerima pasokan sesuai Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) sebesar US$ 7 per MMBTU hanya sekitar 60% di Jawa Bagian Barat.

Sementara di Jawa Bagian Timur hanya 50% - 55%. Selebihnya, industri harus membayar surcharge dengan harga sekitar US$ 15,4 per MMBTU. Selain harga gas dari sisi operasional, secara bisnis, gangguan dari produk impor masih membayangi industri keramik.

Asaki mencatat pada tahun 2025 ada lonjakan impor yang signifikan dari Malaysia dengan kenaikan sekitar 210%, India (55%) dan Vietnam (32%). Asaki pun akan bekerjasama dengan Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) untuk menginisiasi penyelidikan dumping oleh India.

Selain itu, Asaki sedang mengumpulkan data terkait indikasi transhipment produk China melalui Malaysia. Tantangan lainnya adalah kelancaran pasokan bahan baku, terutama pasca pencabutan sejumlah izin di Jawa Barat.

"Asaki juga membutuhkan perhatian Pemerintah perihal kelancaran dan kecukupan bahan baku tanah untuk produksi keramik," tandas Edy.

Selanjutnya: 6 Drakor Ini Bongkar Kisah Nyata Hidup Kaum Difabel

Menarik Dibaca: 6 Drakor Ini Bongkar Kisah Nyata Hidup Kaum Difabel

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×