kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.631.000   29.000   1,11%
  • USD/IDR 16.853   7,00   0,04%
  • IDX 8.937   11,28   0,13%
  • KOMPAS100 1.229   2,00   0,16%
  • LQ45 868   0,40   0,05%
  • ISSI 324   0,94   0,29%
  • IDX30 440   -0,98   -0,22%
  • IDXHIDIV20 517   -1,78   -0,34%
  • IDX80 137   0,24   0,18%
  • IDXV30 144   -0,01   0,00%
  • IDXQ30 140   -0,81   -0,58%

Nasib Industri Kaca di 2026: Utang Daya Beli & Ancaman Gas Mahal


Senin, 12 Januari 2026 / 06:52 WIB
Nasib Industri Kaca di 2026: Utang Daya Beli & Ancaman Gas Mahal
ILUSTRASI. Pasar lokal jadi tumpuan utama industri kaca, namun daya beli masyarakat harus membaik. Cek target utilisasi produksi 2026 yang cuma 60%


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelaku usaha yang bergerak di industri kaca ingin mengungkit kinerja utilisasi dan penjualan pada 2026. Para pengusaha menyoroti sederet peluang dan tantangan yang bakal mengiringi industri kaca pada tahun ini.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Gelas Kaca Indonesia (APGI) Henry T. Susanto mengungkapkan, pasar dalam negeri masih menjadi tumpuan bagi industri gelas kaca. APGI pun berharap tingkat konsumsi dan daya beli bisa membaik, serta target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,4% bisa tercapai.

Selain itu, APGI mengharapkan performa industri manufaktur bisa bertahan di zona ekspansi dengan Purchasing Manager's Index (PMI) Manufaktur yang tetap melaju di atas 50.

"Kami mengharapkan industri gelas dapat tumbuh mengikuti pertumbuhan ekonomi baik dari segi penjualan dan utilisasi, serta pasar dalam negeri dapat menopang pertumbuhan," kata Henry kepada Kontan.co.id, Minggu (11/1/2026).

Henry menggambarkan, sekitar 80% produksi gelas kaca anggota APGI ditujukan ke pasar dalam negeri. Sementara penjualan ekspor berkontribusi sekitar 20%, dengan menyasar pasar Asia Tenggara, Amerika Latin, Afrika Selatan dan Eropa.

Baca Juga: Alfamart Tancap Gas! Sumber Alfaria (AMRT) Target 800 Gerai Baru di Tahun 2026

Henry memprediksi ekspansi ekspor akan lebih menantang, menimbang dinamika geo-politik dan eskalasi konflik yang cukup tinggi pada awal tahun ini.  Dus, Henry mengharapkan adanya perbaikan ekonomi dan daya beli untuk menopang permintaan dari pasar dalam negeri.

"Ekspor merupakan market tambahan untuk mendapatkan harga jual yang lebih baik. Mengenai peluang pasar lokal, kami sangat mengharapkan adanya perbaikan karena pertumbuhan daya beli," ujar Henry.

Kemasan produk industri minuman seperti sirup, kecap, minuman kesehatan, teh dan minuman beralkohol menjadi pasar bagi industri gelas kaca. Sedangkan untuk segmen tableware atau peralatan rumah tangga menyasar pasar business to business, hotel, restoran dan cafe, serta konsumsi rumah tangga.

Henry bilang, musim puncak (peak season) konsumsi masyarakat seperti Natal - Tahun Baru serta Ramadan - Idul Fitri juga menjadi momentum untuk mendongkrak kinerja bagi industri gelas kaca. Adapun, masa peak season kali ini terjadi berdekatan pada akhir 2025 dan awal 2026.

Henry bilang, peningkatan pesanan untuk memenuhi kebutuhan peak season tersebut sudah terasa dalam beberapa bulan terakhir. Level pertumbuhan bervariasi tergantung segmen produk, dengan rentang kenaikan hingga 20%.

Kendala Industri Kaca

Asumsi kinerja industri kaca tahun ini cukup moderat dengan mempertimbangkan dinamika ekonomi dan geo-politik. Selain persoalan daya beli, Henry menyoroti potensi kenaikan biaya seperti biaya kapal atau logistik akibat faktor ketidakpastian yang muncul belakangan ini.

Di samping itu, ada masalah klasik masih membayangi, yakni kendala pasokan dan harga gas industri.

"Masalah utama yang anggota kami hadapi adalah harga gas yang tinggi di luar kuota. Kami berharap industri tidak harus membayar harga regasifikasi gas karena mahal yang menyebabkan harga gelas kami tidak kompetitif," ujar Henry.

Baca Juga: WIKA-Hutama Karya Groundbreaking Proyek Gedung CMU RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

Pasokan dan harga gas bakal memengaruhi tingkat utilisasi produksi. Henry pun memproyeksikan utilisasi industri gelas kaca pada tahun ini akan mencapai sekitar 60%.

Kendala serupa menjadi sorotan Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman (AKLP). Yustinus Gunawan selaku Ketua Umum AKLP mengungkapkan kendala gas menambah kepelikan bagi industri kaca lembaran dan pengaman yang sedang menghadapi kelebihan kapasitas (overcapacity).

Yustinus menggambarkan, kapasitas industri bisa mencapai 2,6 juta ton per tahun. Tetapi, pasar dalam negeri saat ini hanya mampu menyerap sepertiga dari kapasitas produksi atau sekitar 800.000 ton. Dus, pelaku industri kaca lembaran mesti berupaya menggenjot penjualan ke pasar ekspor.

Pelaku industri pun membutuhkan harga gas yang kompetitif untuk bisa bersaing dengan produk dari negara lain. Yustinus pun berharap Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) bisa terealisasi sesuai regulasi.

"Tantangan utama masih harga gas bumi yang tinggi, karena realisasi pasokan HGBT rendah," tandas Yustinus.

Selanjutnya: Jasa Taksi Khusus Balas Dendam dan 6 Drakor Mengguncang Emosi Penonton

Menarik Dibaca: Jasa Taksi Khusus Balas Dendam dan 6 Drakor Mengguncang Emosi Penonton

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×