CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.601.000   -9.000   -0,34%
  • USD/IDR 17.880   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.340   108,24   1,74%
  • KOMPAS100 839   16,49   2,00%
  • LQ45 637   8,89   1,42%
  • ISSI 218   3,63   1,69%
  • IDX30 358   3,90   1,10%
  • IDXHIDIV20 444   3,51   0,80%
  • IDX80 96   1,59   1,69%
  • IDXV30 119   0,82   0,69%
  • IDXQ30 115   1,03   0,91%

Prospek Industri Minuman Kemasan Masih Positif hingga Akhir 2026, Ini Pemicunya


Selasa, 21 Juli 2026 / 13:59 WIB
Diperbarui Selasa, 21 Juli 2026 / 14:03 WIB
Prospek Industri Minuman Kemasan Masih Positif hingga Akhir 2026, Ini Pemicunya
ILUSTRASI. Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Prayogi Ikhrawinata | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT SIG Combibloc Indonesia (SIG), menilai industri minuman kemasan nasional masih memiliki prospek pertumbuhan yang positif hingga akhir 2026. Potensi tersebut didorong oleh besarnya pasar domestik, jumlah penduduk usia muda yang tinggi, serta terus bergulirnya inovasi produk dari produsen makanan dan minuman.

Director Commercial Southeast Asia, Japan & Korea SIG Noer Wellington mengatakan, Indonesia menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan bisnis terbaik bagi SIG dibandingkan pasar lain di kawasan. Menurutnya, perkembangan tersebut terlihat dari kinerja perusahaan sepanjang semester I-2026 yang masih menunjukkan tren positif.

First half actually it’s good. Dibandingkan dengan negara lain Indonesia cukup bagus pertumbuhannya,” ujar Noer dalam media roundtable, Selasa (21/7/2026).

Baca Juga: Kejar Serah Terima Kuartal III, Sinar Primera Fokus Garap Gudang BTS di Bekasi

Noer menjelaskan, Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar karena konsumsi produk minuman kemasan, khususnya susu, masih relatif rendah dibandingkan negara lain di Asia.

Ia menyebut konsumsi susu masyarakat Indonesia baru sekitar 11–12 liter per kapita per tahun, sementara Thailand telah mencapai sekitar 20 liter dan India sekitar 50 liter. Kondisi tersebut dinilai menunjukkan peluang pasar domestik yang masih terbuka lebar.

Selain itu, Indonesia juga didukung populasi usia muda yang besar sehingga kebutuhan terhadap produk makanan dan minuman praktis diperkirakan masih akan terus meningkat. “Karena size dan juga populasi. Populasi kami masih muda,” kata Noer.

Menurutnya, pertumbuhan industri tidak hanya ditopang oleh meningkatnya konsumsi, tetapi juga oleh inovasi produk yang terus dilakukan produsen. Jika sebelumnya inovasi lebih banyak berfokus pada penambahan varian rasa, kini perusahaan mulai menghadirkan pengalaman konsumsi yang berbeda melalui pengembangan produk baru.

Noer menambahkan, SIG berperan mendukung inovasi tersebut melalui solusi teknologi pengemasan yang memungkinkan produsen menghadirkan kategori minuman baru tanpa harus melakukan investasi besar untuk mengganti mesin produksi.

Ia juga melihat perubahan perilaku konsumen yang semakin memperhatikan aspek keterjangkauan harga (affordability), kepraktisan (convenience), serta kualitas produk. “Trend-nya juga affordability dan juga convenience masih kuat di Indonesia,” ujarnya.

Baca Juga: TransNusa Genjot Ekspansi di Semester II, Tambah Empat Pesawat dan Rute Internasional

Menurut Noer, kombinasi besarnya pasar domestik, pertumbuhan populasi muda, dan kebutuhan terhadap produk praktis, menjadi faktor yang membuat Indonesia tetap menjadi pasar strategis bagi SIG hingga akhir tahun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×