Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Kemenko IPK) mengungkapkan pembangunan proyek giant sea wall berbasis atawa tanggul laut di Pantai Utara (Pantura) Jawa ditargetkan akan peletakan batu pertama (groundbreaking) pada Oktober 2026 ini.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang IPK Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menjelaskan, pembangunan Giant Sea Wall merupakan bagian dari konsep besar perlindungan Pantura atau coastal protection.
AHY menyebutkan, konsep pembangunan Giant Sea Wall tidak semata-mata berupa bangunan fisik atau infrastruktur keras (grey infrastructure), tetapi pemerintah justru mendorong pendekatan hibrida.
Baca Juga: Sumber Mas Konstruksi (SMKM) Kejar Akuisisi Bisnis Udang, Ini Prospeknya
Dengan skema tersebut, akan dipadukan grey infrastructure dengan pendekatan berbasis alam (nature-based solution).
“Kalau dibayangkan Giant Sea Wall itu sebagai bangunan yang konkret semata, saya khawatir kurang lengkap pemahaman itu. Karena sebetulnya kita ingin mengintegrasikan, termasuk melakukan pendekatan yang sifatnya hybrid,” jelasnya saat ditemui di Hotel Indonesia Kempinski Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Melalui langkah ini, program yang akan dilakukan pemerintah adalah pengembangan mangrove di Desa Timbulsloko, Kabupaten Demak, Jawa Tengah.
“Nanti akan diluncurkan sebuah gerakan sekaligus juga project mangrove di sejumlah segmen yang sudah ditetapkan oleh badan otorita,” ujar AHY.
Menurutnya, pemerintah tidak perlu menunggu seluruh konsep pembangunan coastal protection selesai sebelum mulai melakukan langkah-langkah yang sudah dapat dikerjakan. Hal ini mengingat pengembangan mangrove membutuhkan waktu.
"Prinsipnya kita tidak menunggu secara utuh semuanya, karena mangrove membutuhkan waktu, proses, tahunan juga. Supaya menjadi kawasan mangrove yang solid, yang tangguh, dan bisa memecah ombak sekaligus juga mengurangi dampak intrusi air laut masuk ke daratan," imbuh AHY.
Diberitakan sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyatakan proyek Giant Sea Wall merupakan infrastruktur strategis yang penting untuk melindungi masyarakat sekaligus menjaga aktivitas ekonomi di kawasan Pantura Jawa.
“Pembangunan giant sea wall akan melindungi 50 juta rakyat kita dan juga mengamankan 38 persen PDB Indonesia,” ujar Prabowo dalam keterangan resmi, Rabu (16/9/2026) lalu.
Baca Juga: Harga Nikel Diprediksi Fluktuatif hingga Akhir 2026, Ini Pemicunya
Menurut Prabowo, kawasan Pantura Jawa memiliki konsentrasi industri dan aktivitas ekonomi yang tinggi karena wilayah ini memili 70 kawasan industri dan lima kawasan ekonomi.
Selain itu, Pantura Jawa juga disebut menjadi bagian penting dari poros logistik nasional. Dus, pembangunan tanggul laut dinilai penting untuk menghadapi berbagai risiko di kawasan pesisir tersebut.
“Ini sangat vital karena di Pantai Utara Jawa itu banyak sekali industri kita di situ. Jadi, tanggul pantai, tanggul laut, breakwater,” kata Prabowo.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














