kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.613.000   23.000   0,89%
  • USD/IDR 17.924   -15,00   -0,08%
  • IDX 6.242   -56,72   -0,90%
  • KOMPAS100 813   -5,85   -0,71%
  • LQ45 621   -2,15   -0,35%
  • ISSI 215   -3,31   -1,52%
  • IDX30 344   -1,09   -0,32%
  • IDXHIDIV20 429   0,02   0,00%
  • IDX80 93   -0,53   -0,57%
  • IDXV30 116   -0,90   -0,76%
  • IDXQ30 111   -0,10   -0,09%

Proyek Hilirisasi Batubara Masih Dibayangi Tantangan Kelayakan dan Nilai Ekonomi


Minggu, 27 September 2026 / 15:48 WIB
Proyek Hilirisasi Batubara Masih Dibayangi Tantangan Kelayakan dan Nilai Ekonomi
ILUSTRASI. Harga batu bara acuan periode kedua September 2026 (ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI)


Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Pemasok Energi, Mineral dan Batubara Indonesia (Aspebindo) menilai proyek-proyek hilirisasi batubara memiliki peluang yang besar, tetapi sisi kelayakan (feasibility) dan keekonomian proyek masih rawan menjadi tantangan.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan rencana pengadaan batubara menjadi bensin atau hilirisasi coal to liquid yang disebut bertujuan memperkuat kemandirian energi.

Beberapa perusahaan juga sudah mengintip peluang dari hilirisasi batubara. Misalnya, coal to methanol yang dikembangkan oleh PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melalui PT Bumi Etam Chemical (BEC) atau usaha patungan PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal (KPC), di Kutai Timur, Kalimantan Timur. Adapun PT Bukit Asam Tbk (PTBA) juga sedang menggarap proyek coal to dimethyl ether (DME) yang rencananya masuk tahap konstruksi pada 2027.

Baca Juga: Gapmmi: Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 6,5%, Penciptaan Lapangan Kerja Jadi PR

Ketua Umum Aspebindo, Anggawira mengatakan, kelayakan setiap proyek hilirisasi batubara sebenarnya bergantung pada jenis dan harga batubara, biaya pembangunan pabrik, akses air dan infrastruktur, teknologi yang teruji, harga produk pesaing, serta kontrak pembeli jangka panjang. Sebuah proyek juga menurutnya harus menghitung biaya pengelolaan emisi sejak awal.

"Jika keekonomian hanya terlihat baik karena batubara dipasok jauh di bawah nilai wajarnya, atau karena subsidi yang tidak dihitung terbuka, manfaatnya bagi negara perlu dinilai kembali," terangnya kepada Kontan, Minggu (27/9/2026).

Ia mencontohkan proyek coal to methanol oleh KPC–Arutmin. Langkah menuju studi rekayasa dan pembangunan proyek tersebut, menurutnya, patut diapresiasi. Namun, dia menilai ukuran keberhasilannya nanti terletak pada apakah pabrik dapat beroperasi secara andal dan menjual hasil dengan harga bersaing.

Menurutnya, aspek pasar juga menjadi hal yang perlu diperhatikan mengingat kapasitas produksi yang direncanakan cukup besar.

"Kapasitas yang direncanakan sekitar 2 juta ton per tahun, sementara impor metanol Indonesia pada 2025 sekitar 1,3 juta ton. Karena itu, proyek perlu memastikan pembeli domestik, potensi pertumbuhan industri pengguna, dan pasar ekspor," ungkap Anggawira.

Di sisi lain, Anggawira turut menyoroti peluang hilirisasi batubara yang terletak pada pemanfaatan batubara berkalori rendah menjadi bahan baku industri yang memang dibutuhkan. Terutama, jika pabrik terhubung dengan kawasan industri, pelabuhan, dan pembeli.

"Metanol dapat masuk ke rantai petrokimia dan kebutuhan industri lainnya. DME berpeluang mengurangi sebagian ketergantungan pada LPG impor. Bahan bakar cair dari batubara juga layak diteliti sebagai salah satu opsi ketahanan energi," jelasnya.

Bagaimanapun, menurutnya, tujuan hilirisasi batubara perlu diarahkan untuk menghasilkan nilai tambah industri yang terukur, alih-alih mengolah batubara sebanyak mungkin.

Baca Juga: Pasokan Batubara RI Melimpah, Berikut Proyek Hilirisasi yang Paling Realistis

"Setiap ton batubara yang digunakan harus memberi manfaat bersih setelah biaya investasi, energi, air, emisi, logistik, dan dukungan fiskal dihitung," imbuh Anggawira.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×