kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.796.000   -3.000   -0,11%
  • USD/IDR 17.358   4,00   0,02%
  • IDX 6.957   -144,42   -2,03%
  • KOMPAS100 936   -21,42   -2,24%
  • LQ45 669   -14,80   -2,16%
  • ISSI 251   -4,43   -1,74%
  • IDX30 373   -6,79   -1,79%
  • IDXHIDIV20 458   -7,34   -1,58%
  • IDX80 105   -2,51   -2,34%
  • IDXV30 134   -2,24   -1,64%
  • IDXQ30 119   -2,51   -2,07%

Realisasi Produksi Masih Jauh dari Optimal, Bahan Baku KRAS Tertahan di Selat Hormuz


Senin, 27 April 2026 / 17:28 WIB
Diperbarui Sabtu, 02 Mei 2026 / 14:49 WIB
Realisasi Produksi Masih Jauh dari Optimal, Bahan Baku KRAS Tertahan di Selat Hormuz
ILUSTRASI. Direktur Utama Krakatau Steel Akbar Djohan (dok/diki mardiansyah )


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gejolak geopolitik di Timur Tengah yang memicu penutupan Selat Hormuz dalam beberapa bulan terakhir mulai menekan industri baja nasional.

Emiten baja pelar merah, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) menjadi salah satu pihak yang terdampak langsung akibat tersendatnya jalur distribusi bahan baku.

Direktur Utama Krakatau Steel Akbar Djohan mengungkapkan, sebagian bahan baku baja tertahan di jalur pelayaran internasional tersebut. 

Baca Juga: Telkom (TLKM) Luncurkan Agentic AI by BigBox, Dorong Otomasi Cerdas untuk Bisnis

Dalam Coffee Morning with CEO di Jakarta, Senin (27/4/2026), Akbar menjelaskan, secara kapasitas terpasang Krakatau Steel sejatinya mampu memproduksi hingga 3 juta ton baja per tahun. Namun, realisasi produksi saat ini masih jauh dari optimal akibat kendala pasokan bahan baku.

Ia menyebut, produksi baja domestik perusahaan baru berada di kisaran 1,2 juta ton per tahun. Ke depan, perusahaan akan mengevaluasi strategi pasokan bahan baku guna meningkatkan utilisasi kapasitas produksi.

“Volumenya seharusnya bisa mencapai tiga juta ton, cuma kami harus introspeksi mengenai bahan baku,” tambahnya.

Sebelumnya dalam catatan Kontan, Krakatau Steel membidik pendapatan konsolidasi sebesar US$ 1,6 miliar pada 2026, sesuai dengan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP).

Target tersebut tidak hanya berorientasi pada angka finansial, tetapi juga menjadi bagian dari transformasi perusahaan menuju “Reborn State”, yang menekankan ketangkasan dan kolaborasi lintas entitas antara induk usaha dan anak perusahaan.

Dari sisi operasional, Krakatau Steel menargetkan volume produksi baja mencapai 1,2 juta hingga 1,3 juta ton pada 2026. Target ini meningkat dibandingkan realisasi produksi 2025 yang mencapai sekitar 936.000 ton.

Peningkatan produksi diharapkan dapat mendorong pendapatan sekaligus memperkuat utilisasi fasilitas pabrik yang ada, khususnya di kawasan Cilegon.

Baca Juga: Garuda Metalindo (BOLT) Incar Pasar Kendaraan Listrik, Begini Strateginya

Update:

Pada 2 Mei 2026, Redaksi Kontan menerima surat klarifikasi dari Fedaus, Corporate Secretary PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS).

Pada intinya manajemen KRAS meluruskan bahwa yang tertahan di Selat Hormuz adalah bahan baku (slab/billet) untuk diolah di dalam negeri, bukan "impor baja" dalam bentuk produk jadi. Dalam klarifikasi tersebut Krakatau Steel juga menegaskan komitmen untuk mendukung kemandirian industri baja nasional.
 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×