kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.888.000   -5.000   -0,17%
  • USD/IDR 17.158   1,00   0,01%
  • IDX 7.621   -2,20   -0,03%
  • KOMPAS100 1.052   -3,78   -0,36%
  • LQ45 757   -2,62   -0,35%
  • ISSI 277   -0,92   -0,33%
  • IDX30 403   -0,40   -0,10%
  • IDXHIDIV20 488   -0,78   -0,16%
  • IDX80 118   -0,36   -0,30%
  • IDXV30 138   0,41   0,30%
  • IDXQ30 129   -0,01   -0,01%

Konflik Timur Tengah Kerek Harga Bahan Baku Hingga 40%, Harga Cat Bisa Naik 10%


Kamis, 16 April 2026 / 15:33 WIB
Konflik Timur Tengah Kerek Harga Bahan Baku Hingga 40%, Harga Cat Bisa Naik 10%
ILUSTRASI. Produsen Cat Dulux Hadirkan Gerai Fisik Pertamanya di BSD City (Dok/Dulux)


Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konflik Timur Tengah juga berdampak pada industri cat. Harga bahan baku cat, yakni cairan pelarut (solvent) atau thinner, disebut telah terkerek sejak penutupan Selat Hormuz yang memicu peningkatan harga minyak.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Cat Indonesia (APCI), Markus Winarto mengatakan, meskipun secara umum harga cat di ritel belum naik, tapi harga thinner bagi produsen terpantau sudah meningkat sekitar 40%. Hal ini mengingat thinner merupakan bahan baku yang berasal dari minyak.

"(Kenaikan harga di ritel) belum, tapi (thinner) sudah sampai sekitar 40 %. Sekarang bukan lebih ke masalah harga, tetapi keberadaan atau pasokannya," katanya kepada Kontan saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (16/4/2026).

Baca Juga: Industri Otomotif Kuartal I Cenderung Stagnan, Hyundai Bidik Pangsa Pasar 3%

Pasalnya, lanjut Markus, saat ini thinner masih banyak diimpor terutama dari Negara Teluk yang tentu pengirimannya perlu melewati Selat Hormuz.

Menurutnya, opsi lain ialah mengimpor dari negara yang mendapat akses melalui Selat Hormuz seperti Malaysia. Namun, ia menganggap opsi ini juga tidak mudah karena mereka tetap memprioritaskan kebutuhan stok untuk dalam negeri.

Jika perang berlanjut, Markus memprediksi hal ini dapat berdampak ke kenaikan harga cat di ritel sebesar 5% hingga 10%.

Dengan situasi global yang penuh ketidakpastian, para produsen cat pun masih wait and see terhadap prospek industri cat ke depan. APCI juga belum bisa memperkirakan adanya pertumbuhan nilai industri cat tahun ini.

Ia melanjutkan, penjual juga kemungkinan akan menahan untuk menjual cat dengan jumlah besar, terutama jika tidak punya stok lama yang memadai. 

Dari sisi segmen proyek, Markus melihat permintaan cat akan tetap tinggi di berbagai segmen, mengingat produk cat dibutuhkan di hampir seluruh sektor industri.

"Orang awam tahu cat dekoratif, tetapi ada juga cat Marine, Offshore, and Protective Coating (MOPC) atau cat untuk pipa, tangki, kapal, kilang, dan lainnya. Ini segmen yang terutama membutuhkan fungsi protektif dari cat," imbuh dia.

Markus menambahkan, produsen cat juga saat ini mengoptimalkan produksi cat bebas timbal. Meskipun, dengan cat bebas timbal, frekuensi pengecatan ulang relatif lebih sering. Sebab, cat bertimbal umumnya lebih tahan lama. 

Namun, ia menyorot bahwa kandungan timbal dalam cat bebas timbal tetap ada, alias tak dapat sepenuhnya mencapai nihil atau 0%.

Baca Juga: PLN Beri Diskon Tambah Daya 50% untuk Dukung Kebijakan WFH, Ini Syarat & Caranya

"Berdasarkan aturan World Health Organization (WHO), batas timbal dalam cat maksimal 90 parts per million (ppm)," imbuh Markus.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×