kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.902.000   75.000   2,65%
  • USD/IDR 17.045   -4,00   -0,02%
  • IDX 7.157   108,68   1,54%
  • KOMPAS100 988   16,38   1,69%
  • LQ45 726   9,72   1,36%
  • ISSI 255   3,97   1,58%
  • IDX30 393   4,68   1,20%
  • IDXHIDIV20 488   1,02   0,21%
  • IDX80 111   1,74   1,58%
  • IDXV30 135   -0,12   -0,09%
  • IDXQ30 128   1,23   0,97%

REI Jakarta: Bunga kredit tinggi membuat bisnis properti lesu


Kamis, 22 November 2018 / 15:24 WIB
ILUSTRASI. Kredit pemilikan rumah (KPR)


Reporter: Galvan Yudistira | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Real Estate Indonesia (REI) mengeluhkan kenaikan bunga kredit properti yang trennya meningkat di tahun ini. Kenaikan bunga kredit menyebabkan pertumbuhan bisnis properti melesu.

Ketua Umum DPP REI DKI Jakarta Amran Nukman mengatakan dengan bunga kredit properti terutama kredit pemilikan rumah (KPR) yang tinggi membuat bisnis properti tidak bergairah. “Kami berharap kenakan suku bunga tidak menghambat masyarakat berinvestasi di properti,” kata Amran ketika ditemui di acara rapat kerja daerah (rakerda) REI DKI Jakarta 2018, Kamis (22/11).

Dengan suku bunga yang tinggi akan menghambat konsumer untuk membeli calon hunian karena cicilannya akan semakin berat. Apalagi harga tanah di Jakarta dan daerah penyangganya sepereti Tangerang, Bogor, Depok, Bekasi terus naik.

Pada tahun ini, bisa dibilang kredit properti seperti dihantam dari beberapa sisi. Selain bunga kredit, masalah perizinan dari pemerintah yang masih lambat juga menjadi sorotan pengembang ketika mengembangkan sebuah proyek properti.

REI mengharapkan pemerintah bisa semakin mudah memberi izin dengan hanya membuka perizinan satu agar bisnis properti bisa menggeliat lagi. Sebagai gambaran saja, pada dua tiga tahun lalu, pertumbuhan bisnis properti bisa mencapai 10%-20% per tahun.

Sedangkan pada tahun ini bisa tumbuh 5%-7% saja sudah bagus. Menurut Amran, relaksasi uang muka kredit atau loan to value (LTV) dari Bank Indonesia (BI) tidak terlalu berefek di tahun ini. Namun efek dari relaksasi ini diharapkan mulai akan bisa terasa pada tahun depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×