kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.651.000   11.000   0,42%
  • USD/IDR 17.981   -32,00   -0,18%
  • IDX 5.876   131,22   2,28%
  • KOMPAS100 765   20,79   2,79%
  • LQ45 582   16,29   2,88%
  • ISSI 204   4,37   2,19%
  • IDX30 329   8,59   2,68%
  • IDXHIDIV20 406   11,61   2,94%
  • IDX80 87   2,30   2,72%
  • IDXV30 110   2,89   2,69%
  • IDXQ30 106   3,06   2,97%

RI-Malaysia join garap industri turunan CPO


Rabu, 14 Oktober 2015 / 13:28 WIB


Reporter: Syamsul Ashar | Editor: Havid Vebri

JAKARTA. Pemerintah Indonesia dan Malaysia sepakat untuk memperkuat kerjasama ekonomi, khususnya dalam meningkatkan nilai tambah produk minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO).

Dua negara ini bersepakat untuk bersama-sama membangun industri turunan dari CPO. Hal ini disampaikan oleh Menteri Perdagangan Internasional dan Industri Malaysia Dato’ Sri Mustapa Mohamed, Selasa (13/10).

Mustapa menyebut kesepakatan ini merupakan tindak lanjut komitmen antara Presiden Joko Widodo dan Perdana Menteri Malaysia Dato 'Sri Najib Tun Razak di Istana Kepresidenan Bogor, Minggu (11/10).

Menurut Mustapa, selama ini produk derivatif atawa turunan dari CPO sebagian besar diproduksi oleh negara lain di luar Indonesia dan Malaysia.

Akibatnya, imbal hasil yang diterima oleh industri perkebunan kelapa sawit Indonesia dan Malaysia kecil. Padahal, 85% pasokan minyak sawit dunia berasal dari Indonesia dan Malaysia.

Kerjasama ini menjadi pemantik kerjasama lain antara dua negara serumpun ini. Ke depan Indonesia dan Malaysia akan berupaya menyamakan pandangan untuk membuat standardisasi yang sama atawa penyeragaman produk untuk dipakai bersama.

Standarisasi itu diharapkan bisa diterima oleh negara tujuan pasar atawa pembeli produk-produk berbasis CPO. "Sekarang kami tahu harga palm oil sedang turun, jika digunakan lebih banyak untuk industri down stream sudah pasti akan banyak membantu industri," kata Mustapa.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×