Reporter: Leni Wandira | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kebijakan work from home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN) setiap hari Jumat memicu gelombang kritik di ruang digital. Namun, di tengah ramainya perbincangan tersebut, mayoritas warganet ternyata belum mengambil sikap tegas terhadap kebijakan efisiensi energi pemerintah.
Riset PT Binokular Media Utama menunjukkan, sentimen publik masih didominasi sikap netral. Dari total 137.672 percakapan di media sosial selama 31 Maret–12 April 2026, sebanyak 69% warganet berada pada fase observasi, sementara sentimen negatif tercatat 17% dan positif 14%. Total engagement bahkan menembus 7,36 juta interaksi.
“Perbincangan seputar kebijakan transformasi budaya kerja dan efisiensi energi melonjak tajam pada 1 April 2026, sehari setelah pengumuman resmi pemerintah pada 31 Maret 2026. Lonjakan ini merupakan reaksi langsung warganet terhadap berbagai poin kebijakan, terutama yang berkaitan dengan penghematan energi.
Sebelumnya, pada akhir Maret, jagat media sosial sudah diramaikan oleh kecemasan publik terhadap kemungkinan kenaikan harga BBM menyusul ketegangan di Timur Tengah,” kata Manajer Social Media Data Analytics (Socindex) Binokular, Danu Setio Wihananto.
Baca Juga: Penumpang LRT Turun 10% Saat Pemerintah Mulai Terapkan WFH ASN Jumat (10/4)
Isu WFH ASN menjadi topik paling kontroversial dalam diskursus tersebut. Kebijakan ini menuai pro dan kontra, terutama terkait potensi penurunan kualitas layanan publik hingga kekhawatiran dimanfaatkan sebagai long weekend. Di sisi lain, sebagian warganet menilai WFH dapat menekan konsumsi energi dan menjadi model kerja yang lebih efisien.
Selain WFH, isu lain yang banyak disorot adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta keputusan pemerintah menahan harga bahan bakar minyak (BBM). Berbeda dengan WFH, kebijakan penahanan harga BBM justru mendapat respons positif dari publik dan dinilai mampu meredam kekhawatiran yang sempat memicu panic buying.
“Isu ini menyebabkan kepanikan dan antrean panjang di sejumlah SPBU. Namun, setelah pemerintah secara resmi mengumumkan bahwa harga BBM subsidi dan non-subsidi tertentu ditahan, warganet berbondong-bondong menyatakan lega dan berterima kasih,” ujar Manajer News Data Analytics Binokular, Nicko Mardiansyah dalam keterangannya, Rabu (22/4/2026).
Baca Juga: WFH Seminggu Sekali Disiapkan, Efisiensi Energi Dinilai Terbatas
Di luar itu, warganet juga menyoroti dampak lanjutan kebijakan efisiensi energi, seperti kenaikan harga plastik yang membebani pelaku UMKM serta kenaikan harga avtur yang berdampak pada tarif tiket pesawat.
Binokular menilai, dominasi sentimen netral menunjukkan publik masih menunggu bukti konkret dari implementasi kebijakan. Namun, potensi peningkatan sentimen negatif tetap terbuka jika isu-isu krusial, terutama WFH ASN, tidak dikomunikasikan secara efektif.
Hasil analisis juga menunjukkan pola percakapan publik yang tersebar di berbagai klaster tanpa aktor dominan, menandakan informasi diterima dari beragam sumber dengan framing berbeda sebelum meluas di media sosial.
Baca Juga: Kebijakan WFH Berpotensi Tekan Pemasukan UMKM Makanan dan Minuman
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













