Reporter: Fahriyadi | Editor: Fahriyadi .
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Risiko keamanan di sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) semakin memengaruhi pergerakan harga minyak mentah dunia. Ketegangan geopolitik, potensi gangguan pasokan, hingga isu keamanan siber kini dinilai berperan besar dalam membentuk persepsi pelaku pasar global, bahkan sebelum terjadi gangguan produksi secara fisik.
Founder PT Nusantara Trading Center (NTC) Gibran Ferdiansyah mengatakan, dalam konteks pasar energi global, isu keamanan hulu migas perlu dipahami sebagai faktor risiko yang memengaruhi ekspektasi dan sentimen pasar. Menurut dia, isu tersebut tidak lagi sekadar persoalan teknis operasional di lapangan.
PT NTC yang menaungi Akademi Trading Oil merupakan ekosistem edukasi yang berfokus pada pemahaman minyak mentah global yang diperdagangkan di pasar futures internasional.
Baca Juga: Harga ICP Desember 2025 Turun Jadi US$ 61,10 per Barel, Tertekan Kelebihan Pasokan
“Pasar minyak dunia bergerak berdasarkan bagaimana risiko dibaca. Informasi mengenai keamanan dan geopolitik sering kali langsung tercermin dalam pergerakan harga,” ujar Ferdiansyah, Rabu (21/1).
Ferdiansyah menambahkan, pergerakan harga di pasar kerap mencerminkan sistem peringatan dini berbasis pasar, karena bereaksi lebih cepat dibandingkan gangguan fisik di lapangan.
“Ketegangan geopolitik, isu keamanan global, dan potensi gangguan pasokan umumnya memicu perubahan sentimen pasar. Dampaknya terlihat pada meningkatnya volatilitas serta pergeseran risk premium minyak mentah dunia. Kondisi ini membuat stabilitas pasar energi global semakin ditentukan oleh persepsi risiko yang berkembang di pasar,” paparnya.
Dari sudut pandang pasar, kata dia, harga minyak dunia tidak digerakkan oleh satu negara atau kawasan tertentu. Pergerakannya dipengaruhi oleh narasi global, ekspektasi keseimbangan pasokan dan permintaan, serta respons pelaku pasar internasional secara kolektif. Karena itu, pemahaman terhadap dinamika pasar energi global menjadi semakin penting bagi berbagai pemangku kepentingan di sektor energi.
Selain risiko fisik dan geopolitik, ancaman keamanan digital juga mulai mendapat perhatian pasar. Disrupsi teknologi dan isu siber yang menyasar infrastruktur energi global dinilai berpotensi memengaruhi sentimen dan memperbesar ketidakpastian harga minyak dunia.
Pandangan tersebut sejalan dengan pembahasan dalam Rapat Kerja Sekuriti SKK Migas–KKKS 2025 yang digelar akhir tahun lalu. Forum tersebut menekankan perlunya transformasi pengamanan hulu migas melalui integrasi teknologi, intelijen, dan pendekatan berbasis masyarakat.
Rapat kerja itu diarahkan untuk menyusun Grand Design Security Hulu Migas 2025–2030 sebagai kerangka kebijakan nasional dalam menghadapi risiko fisik, siber, dan sosial yang semakin kompleks di tengah dinamika pasar energi global.
Selanjutnya: Chitose Internasional (CINT) Bidik Pertumbuhan Kinerja pada 2026
Menarik Dibaca: Promo Indomaret Harga Spesial 21-26 Januari 2026, Snack-Body Care Diskon hingga 40%
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













