kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.781.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Ritel modern agresif, pedagang tinggalkan pasar tradisional


Senin, 28 Maret 2011 / 06:25 WIB
Ritel modern agresif, pedagang tinggalkan pasar tradisional
ILUSTRASI. Pengunjung melihat-lihat barang-barang pada Grand Launch Official Store Tokopedia?di Jakarta (29/3/2019).


Reporter: Yudo Widiyanto | Editor: Dupla Kartini

JAKARTA. Pedagang pasar tradisional semakin terjepit. Ritel modern yang secara agresif mengembangkan jaringan bisnis memaksa para pedagang pasar mengubah pola berjualan mereka.

Agar tetap eksis, mereka kini banyak yang menggelar dagangan dengan cara berpindah pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. "Pasar sekarang sudah tidak efisien untuk berjualan," kata Ketua Majelis Pertimbangan Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Hasan Basri, Minggu (27/3).

Menurut Hasan, sejak awal tahun ini para pedagang pasar tradisional mengalami penurunan omzet rata-rata 15% hingga 20%. Saat ini, pendapatan yang dikantongi pedagang hanya berkisar mencapai Rp 500.000-700.000 perbulan.

Penurunan ini dialami seluruh jenis pedagang. Kondisi ini, papar Hasbi, memaksa pedagang meninggalkan kios mereka di pasar-pasar tradisional. "Itu dilakukan karena omzet merosot terus sejak awal tahun," tutur Hasan.

Di sisi lain, harga sewa kios di pasar terus naik. Hasan bilang, sejak tahun 2010 lalu harga sewa kios naik rata-rata 10%. "Daripada bayar kios mahal mereka akhirnya cari tempat jualan lain," tuturnya.

Sebagian pedagang bergabung dengan kelompok pedagang kaki lima. Kelompok kaki lima ini biasanya membuka lapak di area terbuka, seperti permukiman penduduk pada malam hari.

Itu sebabnya, menurut Hasan, jumlah pedagang kaki lima belakangan terlihat makin menjamur. Menurut Hasan, berjualan dengan cara membuka lapak lebih murah, karena pedagang hanya membayar iuran bukan sewa kios.

Berdasarkan data APPSI, pada 2010 jumlah pedagang tradisional mencapai 12,5 juta. Sedangkan jumlah pasar tradisional sebanyak 11.000 unit. Jumlah pedagang maupun pasar tradisional ini tidak meningkat sejak 2008 silam.

Director Retail Service Nielsen Indonesia Yongki Susilo mengatakan, hengkangnya pedagang dari pasar tradisional lebih disebabkan karena buruknya pengelolaan pasar. Manajemen yang buruk membuat pasar tradisional tidak bisa mengimbangi pesatnya perkembangan ritel modern. "Banyaknya sampah dan terbatasnya fasilitas membuat pasar mulai ditinggalkan konsumen," ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU

[X]
×