Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penyesuaian target produksi nikel dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 dinilai tidak signifikan mengganggu operasional PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) alias Antam.
Sekretaris Perusahaan Antam Wisnu Danandi Haryanto menyatakan, kebijakan pemerintah tersebut bertujuan menjaga keseimbangan sumber daya, stabilitas industri, dan tata kelola pertambangan yang baik.
“Bagi ANTAM, kebijakan ini tidak berdampak signifikan terhadap keberlangsungan usaha, karena operasional perusahaan tetap disesuaikan dengan persetujuan RKAB yang berlaku serta kebutuhan riil produksi dan pasar. ANTAM senantiasa menjalankan kegiatan operasional secara terukur dan sesuai prinsip good mining practice,” kata Wisnu kepada Kontan, dikutip Senin (19/1/2026).
Baca Juga: Harga ICP Desember 2025 Turun Jadi US$ 61,10 per Barel, Tertekan Kelebihan Pasokan
Wisnu menegaskan Antam akan tetap mengoptimalkan produksi secara selektif dan efisien dengan mengedepankan keselamatan, aspek lingkungan, dan keberlanjutan.
Penyesuaian target produksi tidak mengubah komitmen perusahaan dalam menjalankan rencana investasi strategis, termasuk yang mendukung hilirisasi mineral dan peningkatan nilai tambah. Seluruh rencana investasi dilakukan secara prudent dan diselaraskan dengan kondisi pasar, regulasi, serta kesiapan proyek.
Wisnu menambahkan, penyesuaian target RKAB tidak berdampak pada pemenuhan pasokan bahan baku untuk smelter maupun proyek strategis, termasuk pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik.
ANTAM memiliki perencanaan pasokan terintegrasi dan jangka panjang, sehingga kebutuhan bahan baku untuk mendukung hilirisasi tetap dapat dipenuhi secara optimal.
Baca Juga: Cegah Dampak Lingkungan, Perusahaan Tambang Didorong Terapkan Standar Internasional
Sebelumnya, Kementerian ESDM memangkas target produksi bijih nikel dalam RKAB 2026 menjadi sekitar 250—260 juta ton, turun dari RKAB 2025 yang mencapai 364 juta ton.
Sebagai informasi, ANTAM mengoperasikan tambang dan fasilitas pengolahan nikel di Sulawesi Tenggara dan Maluku, serta memproduksi bijih nikel dan feronikel (FeNi) sebagai komoditas utama. Feronikel hasil olahan diekspor dan digunakan di industri baja serta sektor lain.
Selain itu, Antam mencatat pertumbuhan laba signifikan dari segmen nikel. Laba segmen nikel pada semester I-2025 melonjak menjadi Rp 3,53 triliun, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang hanya Rp 148 miliar.
Selanjutnya: Pangeran Harry dan Elton John Gugat Penerbit Daily Mail, Sidang Digelar di London
Menarik Dibaca: Ancaman Kebocoran Data Instagram, Waspada Email Reset Password Palsu
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












![[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_17122515210200.jpg)
