kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.725.000   80.000   3,02%
  • USD/IDR 17.779   -88,00   -0,49%
  • IDX 6.502   107,46   1,68%
  • KOMPAS100 842   17,11   2,07%
  • LQ45 639   11,27   1,80%
  • ISSI 229   4,24   1,89%
  • IDX30 356   5,32   1,52%
  • IDXHIDIV20 433   5,05   1,18%
  • IDX80 96   1,89   2,00%
  • IDXV30 121   1,43   1,20%
  • IDXQ30 113   1,57   1,41%

Rupiah Lemas, Pelaku Industri Travel Perkuat Efisiensi dan Arus Kas


Kamis, 20 Agustus 2026 / 15:21 WIB
 Rupiah Lemas, Pelaku Industri Travel Perkuat Efisiensi dan Arus Kas
ILUSTRASI. Efek pelemahan rupiah ke industri perjalanan (Dok/DOKU)


Reporter: Ahmad Febrian | Editor: Ahmad Febrian

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah menjadi salah satu tantangan bagi industri perjalanan. Tekanan terutama bagi para pelaku usaha yang memiliki kewajiban pembayaran dalam mata uang asing, sementara kenaikan biaya tidak selalu dapat langsung diteruskan kepada konsumen.

VP of Business Development (Airlines & Travel) DOKU, Dinus Hafis mengatakan, dampak pelemahan rupiah berbeda pada setiap segmen industri travel. Maskapai menjadi salah satu segmen yang memiliki eksposur tinggi terhadap pergerakan mata uang asing.

Biaya sewa pesawat, perawatan, bahan bakar hingga sebagian biaya operasional maskapai dibayarkan dalam dolar Amerika Serikat (AS). Alhasil, pelemahan rupiah dapat meningkatkan tekanan terhadap margin perusahaan.

"Ketika rupiah melemah, biaya operasional otomatis meningkat sementara harga jual kepada pelanggan tidak selalu dapat disesuaikan secara cepat karena mempertimbangkan daya beli dan persaingan pasar," kata Dinus, Selasa (18/8).  

Tekanan serupa dihadapi online travel agent (OTA) yang bekerja sama dengan hotel internasional, global distribution system (GDS), serta penyedia layanan di luar negeri. Perusahaan harus mengelola risiko nilai tukar sekaligus mempertahankan harga yang kompetitif.

Agen perjalanan konvensional yang banyak melayani perjalanan outbound juga menghadapi tekanan. Kenaikan harga paket perjalanan menyebabkan sebagian konsumen menunda atau mengurangi perjalanan ke luar negeri.

Baca Juga: Pelangi Indah Canindo (PICO) Gandeng POSCO Amankan Pasokan Bahan Baku Baja

Sebaliknya, menurut Dinus, hotel domestik relatif lebih stabil karena sebagian besar pendapatan dan biaya operasional menggunakan rupiah. Sejumlah hotel bahkan berpotensi mendapatkan manfaat ketika konsumen beralih ke perjalanan domestik saat biaya perjalanan ke luar negeri meningkat. 

Kondisi tersebut mendorong perusahaan travel semakin memperhatikan pengelolaan arus kas. Fokus bisnis mulai bergeser dari sekadar mengejar pertumbuhan volume transaksi menjadi meningkatkan efisiensi operasional dan profitabilitas.

Pelaku usaha antara lain berupaya mempercepat settlement, mengurangi biaya pembayaran, serta mengotomatisasi proses rekonsiliasi. Pengelolaan arus kas juga dilakukan lebih ketat untuk menghadapi Kenai Kan biaya.

Untuk perusahaan yang memiliki kewajiban dalam mata uang asing, strategi pengelolaan risiko dapat dilakukan dengan mengatur waktu pembayaran hingga, dalam beberapa kasus, menggunakan instrumen lindung nilai atau hedging. Selain itu, diversifikasi pasar dapat dilakukan agar perusahaan tidak terlalu bergantung pada satu pasar maupun satu mata uang tertentu. 

Dinus menilai, menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan efisiensi akan menjadi faktor penting bagi industri travel hingga akhir tahun. Selain fluktuasi nilai tukar, pelaku usaha masih menghadapi ketidakpastian ekonomi global dan kenaikan biaya operasional.

"Optimalisasi arus kas, pengendalian biaya operasional, pemanfaatan teknologi pembayaran, serta meningkatkan pengalaman pelanggan akan menjadi faktor penting dalam menjaga profitabilitas," ujar Dinus.



 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×