kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.664.000   -36.000   -1,33%
  • USD/IDR 17.835   -55,00   -0,31%
  • IDX 6.366   64,46   1,02%
  • KOMPAS100 827   3,63   0,44%
  • LQ45 631   3,35   0,53%
  • ISSI 222   4,99   2,30%
  • IDX30 353   1,82   0,52%
  • IDXHIDIV20 429   1,64   0,38%
  • IDX80 95   0,42   0,45%
  • IDXV30 118   0,81   0,69%
  • IDXQ30 112   0,53   0,47%

Industri Baja Nasional Masih Tertekan, Utilisasi Produksi Baru 52,7%


Jumat, 14 Agustus 2026 / 14:35 WIB
Industri Baja Nasional Masih Tertekan, Utilisasi Produksi Baru 52,7%
ILUSTRASI. Industri baja nasional belum sepenuhnya menikmati dampak positif pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Industri baja nasional belum sepenuhnya menikmati dampak positif pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur. Di tengah dorongan hilirisasi dan investasi industri, tingkat pemanfaatan kapasitas produksi baja domestik masih relatif rendah akibat tekanan impor dan lemahnya permintaan dari sejumlah sektor pengguna.

Direktur Eksekutif Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Harry Warganegara mengatakan, kondisi ekonomi Indonesia selama hampir dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memang menunjukkan arah positif. Namun, pertumbuhan ekonomi tersebut belum sepenuhnya mampu mendorong permintaan baja nasional.

Menurut Harry, baja merupakan bahan dasar yang digunakan berbagai sektor, mulai dari konstruksi, manufaktur, otomotif, energi, migas, pertambangan hingga industri pengolahan.

"Pertumbuhan ekonomi perlu diterjemahkan lebih kuat menjadi peningkatan permintaan baja melalui pertumbuhan sektor pengguna baja," kata Harry kepada Kontan, Jumat (14/8/2026).

Dia menilai, pembangunan infrastruktur, hilirisasi mineral, pembangunan fasilitas industri, manufaktur dan otomotif menjadi sejumlah sektor yang menopang konsumsi baja dalam dua tahun terakhir.

Namun, permintaan dari sektor konstruksi swasta dan properti masih menghadapi tekanan. Suku bunga, daya beli masyarakat dan sikap investor yang lebih berhati-hati menjadi faktor yang menahan pertumbuhan permintaan.

Baca Juga: Perkuat Logistik Antarnegara, ASDP Dorong Layanan RoRo Batam–Johor

Utilisasi Industri Baja Masih Rendah

Di sisi lain, persoalan industri baja bukan hanya terletak pada besarnya permintaan. Kapasitas produksi baja domestik yang cukup besar juga belum dimanfaatkan secara optimal.

Berdasarkan kajian Kementerian Perindustrian yang dikutip IISIA, rata-rata utilisasi industri baja nasional berada di kisaran 52,7%.

Harry mengatakan, salah satu faktor yang membuat utilisasi industri baja belum optimal adalah tekanan produk impor di pasar domestik.

"Industri baja nasional memiliki kapasitas produksi yang cukup besar, namun utilisasinya masih belum optimal," ujarnya.

Karena itu, IISIA mendorong pemerintah memperkuat tata kelola impor dan menciptakan level playing field antara produk baja nasional dengan produk impor.

Menurut Harry, apabila terdapat indikasi praktik perdagangan yang tidak sehat, pemerintah perlu mengoptimalkan instrumen trade remedies seperti anti-dumping dan safeguard sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Industri Baja Dorong Penurunan Biaya Produksi

Selain tekanan impor, daya saing biaya juga menjadi persoalan bagi industri baja nasional. Harry menyebut biaya energi dan bahan baku sebagai sejumlah komponen yang perlu mendapat perhatian.

Kepastian pasokan gas melalui kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), ketersediaan energi dengan harga kompetitif, penguatan rantai pasok serta penerapan standar nasional Indonesia (SNI), khususnya SNI wajib, dinilai penting untuk memperkuat industri baja dalam negeri.

IISIA juga mendorong pemerintah memperbesar penyerapan produk baja nasional dalam proyek pembangunan.

Penggunaan baja produksi dalam negeri, terutama untuk Proyek Strategis Nasional (PSN) dan proyek infrastruktur pemerintah, perlu diperkuat sepanjang memenuhi standar mutu dan spesifikasi teknis.

"Implementasi TKDN dan P3DN juga perlu ditingkatkan agar pembangunan nasional memberikan dampak berganda bagi industri domestik," kata Harry.

Menurut dia, kepastian permintaan domestik akan menjadi salah satu kunci bagi industri baja untuk meningkatkan utilisasi sekaligus membuka ruang investasi baru.

Baca Juga: Strategi Semen Indonesia (SMGR) Perkuat Bisnis Semen Rendah Karbon

Tiga Rekomendasi IISIA hingga 2029

Untuk mendorong pertumbuhan industri baja hingga 2029, IISIA menyiapkan tiga rekomendasi utama kepada pemerintah.

Pertama, memperkuat level playing field dan tata kelola pasar domestik melalui pengawasan impor, penerapan standar secara konsisten serta penggunaan instrumen trade remedies apabila ditemukan praktik perdagangan tidak sehat.

Kedua, memastikan ketersediaan energi yang kompetitif dan berkelanjutan, termasuk keberlanjutan kebijakan HGBT. Energi yang andal dan kompetitif dibutuhkan industri untuk meningkatkan efisiensi, melakukan investasi teknologi dan menjaga daya saing.

Ketiga, melakukan sinkronisasi kebijakan industri baja dari hulu hingga hilir. Sinkronisasi tersebut mencakup bahan baku, energi, produksi, investasi, perdagangan, standardisasi hingga penyerapan produk baja nasional.

Harry menilai sinergi antar-kementerian dan lembaga menjadi penting agar kebijakan yang dikeluarkan pemerintah tidak berjalan sendiri-sendiri.

Dengan perbaikan tersebut, IISIA berharap industri baja nasional dapat meningkatkan utilisasi kapasitas produksi, mendorong investasi dan memperkuat perannya sebagai salah satu fondasi industrialisasi Indonesia hingga 2029.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×