kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.645.000   -15.000   -0,56%
  • USD/IDR 17.870   -65,00   -0,36%
  • IDX 5.821   -75,34   -1,28%
  • KOMPAS100 752   -12,33   -1,61%
  • LQ45 573   -10,72   -1,84%
  • ISSI 201   -1,70   -0,84%
  • IDX30 325   -6,09   -1,84%
  • IDXHIDIV20 401   -6,69   -1,64%
  • IDX80 86   -1,38   -1,59%
  • IDXV30 108   -1,25   -1,14%
  • IDXQ30 105   -1,88   -1,76%

Rupiah Melemah, Eksportir Hitung Ulang Biaya Produksi dan Logistik


Jumat, 15 Mei 2026 / 18:56 WIB
Rupiah Melemah, Eksportir Hitung Ulang Biaya Produksi dan Logistik
ILUSTRASI. CHINA-ECONOMY-PORT (AFP/HECTOR RETAMAL)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mendorong pelaku industri berorientasi ekspor untuk melakukan penyesuaian strategi bisnis, mulai dari penghitungan biaya produksi hingga negosiasi harga dengan pembeli di pasar global.

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia Benny Soetrisno mengungkapkan, eksportir secara rutin melakukan penyesuaian terhadap pergerakan kurs rupiah terhadap dolar AS untuk menghitung kembali biaya produksi dan logistik.

Baca Juga: Strategi tiket.com Optimalkan Layanan Pemesanan di Tengah Kenaikan Harga Avtur

“Eksportir selalu melakukan adjustment kurs nilai rupiah terhadap USD untuk selalu menghitung biaya produksi serta biaya logistik,” ujar Benny kepada Kontan, Jumat (15/5/2026).

Menurut Benny, penyesuaian juga dilakukan dalam proses negosiasi harga dan volume ekspor dengan importir di negara tujuan. Hal itu dilakukan agar tercapai kesepakatan yang sesuai bagi kedua belah pihak di tengah fluktuasi nilai tukar.

“Negosiasi terhadap harga dan volume juga dari waktu tertentu dicarikan kesepakatan dengan importer di negara tujuan,” katanya.

Ia menilai, pelemahan rupiah dapat menjadi peluang bagi industri berorientasi ekspor seperti petrokimia, plastik, hingga crude palm oil (CPO), karena produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional.

Meski demikian, pelaku usaha tetap mencermati kondisi biaya produksi dan logistik yang ikut terpengaruh pergerakan kurs, terutama bagi industri yang masih menggunakan bahan baku impor.

Baca Juga: GFI Bidik Mobilisasi Pembiayaan Hijau US$ 500 Juta per Tahun, Begini Strateginya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×