kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 0   0   %

Rupiah Tembus Rp 18.188, IPF Ungkap Dampak Pelemahan Rupiah ke Bisnis Kemasan


Senin, 08 Juni 2026 / 17:21 WIB
Rupiah Tembus Rp 18.188, IPF Ungkap Dampak Pelemahan Rupiah ke Bisnis Kemasan
ILUSTRASI. (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)

Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia Packaging Federation (IPF) membeberkan dampak anjloknya nilai tukar rupiah saat ini terhadap usaha kemasan.

Asal tahu saja, melansir Bloomberg, nilai tukar rupiah pada Senin (8/6/2026) ditutup melemah 0,84% secara harian ke Rp 18.188 per dolar Amerika Serikat (AS).

Direktur Eksekutif IPF Henky Wibawa mengatakan, kurs rupiah saat ini berdampak berat bagi industri kemasan khususnya bagi pelaku usaha yang mayoritas porsi material bergantung pada impor, seperti plastik dan metal aluminum. 

Baca Juga: Ekspor Satu Pintu Lewat DSI, Bahlil: Royalti Bakal Dikenakan Sesuai HBA

"Tapi itu semuanya tergantung kepada stok, logistik dan elastisitas harga berkaitan dengan supply and demand (pasokan dan permintaan)," jelas Henky kepada Kontan, Senin (8/6/2026).

Ia mencontohkan, untuk plastik polypropylene (PP) dan polyethylene (PE), sekitar 50% kebutuhan dalam negeri sebenarnya dapat dipenuhi oleh kapasitas produksi Chandra Asri. Beberapa waktu lalu, saat perang Timur Tengah pecah dan perusahaan tersebut menyatakan force majeure, pasokan dari China ternyata masih cukup kuat.

Akibatnya, lanjut dia, stok di pasar menumpuk sehingga produsen terpaksa melakukan penjualan dengan harga diskon. Dalam periode tersebut, harga jual plastik turun sekitar 5% hingga 10% setiap tiga hingga empat hari. Selain itu, ia bilang para agen penjualan juga diwajibkan menyerap stok yang dimiliki produsen.

"Kembali lagi, permintaan pasar FMCG dan ritel memang melemah, tapi kebutuhan dasar tetap ada tentunya dan membutuhkan kemasan," terang Henky.

Menurut Henky, pelaku industri perlu menerapkan berbagai strategi dalam setiap transaksi agar biaya operasional tetap dapat tertutupi. Dalam kondisi saat ini, margin keuntungan mungkin harus diperkecil, asalkan pelaku usaha masih mampu menghindari kerugian.

Adapun sejauh ini, IPF mencermati para pelaku usaha kemasan belum ada yang melakukan PHK ataupun berhenti operasi. Meskipun memang, kata Henky, rencana investasi baru tentu tak dilakukan saat ini.

Menurutnya, saat ini pelaku kemasan perlu melakukan inovasi guna memenuhi permintaan, sambil dapat melakukan efisiensi biaya tanpa mengorbankan fungsi kemasan. 

IPF sendiri, sambung Henky, hingga saat ini masih aktif menjadi pemrakarsa berbagai seminar yang digelar dalam sejumlah pameran industri khususnya di Jakarta dan Surabaya. Menurutnya, hal ini menunjukkan antusiasme pelaku industri pengguna kemasan masih tinggi.

"Antusiasme masih sangat besar, khususnya dari kalangan generasi muda dan yang bergerak di industri kecil UMKM," tandas dia.

Baca Juga: Bahlil: Kebijakan Bea Keluar Batubara Belum Final, Masih dalam Kajian

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

×