kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45927,64   6,18   0.67%
  • EMAS1.325.000 -1,34%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Santika Indonesia Hotel & Resorts tambah hotel di Bukittinggi dan Tasikmalaya​


Senin, 02 November 2020 / 20:27 WIB
Santika Indonesia Hotel & Resorts tambah hotel di Bukittinggi dan Tasikmalaya​
ILUSTRASI. Petugas menyemprotkan disinfektan ke alas sepatu pengunjung Hotel Santika


Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Santika Indonesia Hotels & Resorts mengatakan tingkat okupansi hotel yang berada di daerah penyangga kota besar, memiliki keterisian yang lebih baik dibandingkan kota besar.

Assistant Marcomm Manager dari Santika Indonesia Hotels & Resorts Prita Gero menyatakan, hal ini bisa disebabkan karena di beberapa kota besar masih memberlakukan PSBB dan menjadi red zone penyebaran virus COVID-19.

"Hotel-hotel di tier 2 dan 3 lebih baik dari sisi okupansi saat ini. Mungkin di kota besar dikarenakan juga masih red zone, masih ada PSBB, sehingga huniannya masih lebih rendah," jelasnya kepada Kontan, Jumat (30/10) lalu.

Ia melanjutkan, pihaknya juga sengaja membuka hotel baru di Bukit Tinggi, Sumatera Barat karena daerah tersebut rendah penyebaran virus dan penduduk taat protokol kesehatan. Dengan begitu, Bukit Tinggi dinilai menjadi tempat yang aman untuk berwisata.

Prita berkata, hotel Santika di Bukit Tinggi ini sudah diresmikan pada 18 September lalu. Selain Bukit Tinggi, Santika Indonesia Hotels & Resorts juga akan membuka lagi jaringan hotel Amaris di Tasikmalaya, Jawa Barat pada pertengahan November ini.

"Jadi ada 2 properti yang kami tambah tahun ini. Ini merupakan penggambaran bahwa industri pariwisata dan hotel masih akan bertahan dan baik-baik saja di masa pandemi. Walau ada banyak yang menutup hotelnya, kami bisa membuka 2 hotel lagi jadi ini menjadi harapan baru untuk kita," sambung Prita.

Baca Juga: 232 Pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif mendapat bantuan insentif pemerintah

Ia menambahkan, tamu dan pengunjung hotel yang menginap banyak berasal dari tamu Pemerintah. Hal ini sejalan dengan himbauan agar kementerian meramaikan dan menjalankan meeting di hotel kembali untuk membantu pergerakan ekonomi.

Rata-rata tamu menghabiskan waktu menginap 3 hari 2 malam dengan menggunakan fasilitas gedung pertemuan.

Prita berkata di beberapa wilayah, okupansi hotel masih ada yang berada di angka 20% bahkan 5% sampai 7%. Di sisi lain, ada pula daerah yang sudah menjangkau keterisian 60%. Namun secara keseluruhan, pihaknya merasakan ada kenaikan 30% sampai 40% dibandingkan dengan kuattal lalu.

"Untuk nilai investasi, kami belum bisa disclosed. Namun memang saat ini, tingkat hunian mulai bangkit perlahan dan lebih stabil. Walau tidak merata, namun terasa ada perbaikan okupansi secara keseluruhan sebesar 30% sampai 40% dibandingkan dengan kuartal lalu," imbuhnya.

Prita menyebutkan, daerah-daerah lain yang menyangga okupansi dengan baik adalah Ponorogo, Madiun, Bekasi, Tangerang Selatan, Depok, Bogor hingga Ambon.

Selanjutnya: Kemenparekraf revitalisasi tempat wisata Bali untuk tingkatkan kualitas pariwisata

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×