kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.769.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.586   33,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Selain harga gas, industri keramik juga antisipasi produk impor


Selasa, 18 Agustus 2020 / 18:30 WIB
ILUSTRASI. Pekerja sedang melakukan proses pembuatan keramik di Plant II PT Arwana Citra Mulia Tbk (ARNA) yang berlokasi di Serang, Banten. KONTAN/Agung Hidayat


Reporter: Filemon Agung | Editor: Tendi Mahadi

Dalam catatan Kontan.co.id, Kementerian Perdagangan telah menyampaikan rekomendasi untuk mengeluarkan India dan Vietnam dari daftar negara yang mendapat pengecualian pengenaan safeguard pada lampiran Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 119/PMK.010/2018 tentang pengenaan BMTP terhadap impor produk ubin keramik pertengahan Februari 2020 lalu.

Asaki menilai langkah yang diambil terbilang lamban dan tak seiring dengan semangat Presiden Joko Widodo untuk mengurangi defisit serta perlindungan dan penguatan industri dalam negeri.

Baca Juga: Bangkit dari pandemi Covid-19, Fabelio ekspansi ke tiga kota tahun ini

Eddy melanjutkan, pihaknya memproyeksi dampak pandemi covid seharusnya menekan angka impor sejak Maret 2020 ke level 15% sampai 20% seperti penjualan keramik dalam negeri. Namun kenyataannya volume impor keramik dari India justru meningkat year on year.

"Malah India meningkat 57% yoy dengan volume 9,47 juta m2 dibanding semester 1 2019 sebesar 6,05 juta m2," pungkas Eddy.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×