Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) percaya pertumbuhan kinerja tahun ini masih bisa tumbuh dobel digit. IPCC juga masih optimistis bisa menjaga tren positif pasca mencetak rekor laba tertinggi (all time high) pada tahun 2025.
IPCC membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp 256,51 miliar hingga akhir 2025. Laba emiten Pelindo Group melalui subholding PT Pelindo Multi Terminal ini meningkat 20,87% dibandingkan raihan tahun 2024, yang kala itu tercatat sebesar Rp 212,21 miliar.
Pertumbuhan laba tersebut sejalan dengan kenaikan pendapatan operasi yang mendaki 12,77% secara tahunan atau year on year (yoy) dari Rp 824,59 miliar menjadi Rp 929,96 miliar. Kinerja IPCC ditopang oleh Branch Tanjung Priok yang berkontribusi sebesar Rp 842,55 miliar atau mencapai sekitar 91% dari total pendapatan.
Baca Juga: Hanya 8% Pemda Alokasikan APBD untuk Transportasi Umum, MTI Desak Ada Inpres
Kontribusi dari Branch Tanjung Priok dibarengi dengan penguatan peran terminal satelit di berbagai wilayah yang menyumbang Rp 85,15 miliar atau sekitar 9% dari pendapatan IPCC. Dari sisi komposisi bisnis, segmen Completely Built Up (CBU) tetap menjadi kontributor utama dengan pendapatan sebesar Rp 697,66 miliar, diikuti segmen alat berat Rp 82,67 miliar serta truck/bus sebesar Rp 77,31 miliar.
Direktur Utama Indonesia Kendaraan Terminal, Sugeng Mulyadi menjelaskan bahwa struktur pendapatan tersebut mencerminkan posisi kuat IPCC sebagai pemain kunci dalam rantai logistik otomotif nasional, sekaligus menunjukkan diversifikasi portofolio bisnis yang semakin solid. Sugeng menyoroti, pertumbuhan kinerja IPCC juga didorong oleh akselerasi kendaraan listrik atau Battery Electric Vehicle (BEV), yang menjadi salah satu katalis utama pertumbuhan pada tahun 2025.
Sepanjang tahun lalu, IPCC melayani lebih dari 101.731 unit kendaraan listrik, dengan dominasi merek asal China yang menyumbang lebih dari 80.000 unit. Sorotan lainnya, pada tahun 2025 IPCC menerapkan full single billing dan pada triwulan keempat resmi meluncurkan inovasi bisnis In-Land Transportation sebagai perwujudan tagline baru yaitu Integrated Auto Solutions.
“Sepanjang tahun 2025, IPCC berhasil memperluas layanan melalui penambahan kapasitas melalui Pre-Delivery Center (PDC), integrasi layanan logistik, in-land transportation dan optimalisasi lahan-lahan idle di sekitar Perseroan untuk menampung lonjakan kargo yang melalui terminal kami,” ungkap Sugeng kepada Kontan, Senin (30/3/2026).
Tak hanya dari sisi operasional dan bisnis, IPCC juga menggelar strategi penciptaan nilai tambah dari sisi keuangan. Direktur Keuangan, Sumber Daya Manusia dan Manajemen Risiko Indonesia Kendaraan Terminal, Wing Megantoro menambahkan bahwa IPCC melakukan efisiensi biaya yang tidak berhubungan langsung dengan pendapatan serta penggunaan sistem pembayaran yang terintegrasi melalui digitalisasi seperti PRAYA dan PTOS-C.
Strategi ini memungkinkan pengguna jasa dapat mengetahui tagihan atas layanan secara realtime, mengurangi proses tatap muka serta berhasil mengurangi average collection period (ACP) IPCC dari 31,74 pada 2024 menjadi 29,05 pada 2025.
Baca Juga: Pasca Divestasi Bisnis, Capital A Tunjuk Wakil CEO Baru
"Sebagai salah satu entitas bisnis di Pelindo Grup yang memiliki fundamental solid, kami tidak memiliki kewajiban dalam bentuk hutang kepada perbankan maupun pihak lain (debt free company) sehingga memberikan ruang gerak yang lebih prudent serta independensi pengelolaan keuangan untuk pengembangan Perseroan," terang Wing.
Strategi dan Target 2026
Menginjak tahun 2026, IPCC optimistis bisa menjaga laju pertumbuhan kinerja secara operasional maupun keuangan. Pasca mencetak rekor laba, IPCC kembali membidik level pertumbuhan dobel digit, namun dengan pendekatan yang moderat, yakni sekitar 10% - 15% dibandingkan tahun lalu.
Sugeng bilang pada tahun 2026 akan menjadi momentum akselerasi transformasi bagi IPCC dalam memperkuat peran strategis sebagai simpul logistik kendaraan nasional. Sebagai bagian dari transformasi perusahaan, IPCC telah melakukan strategic positioning realignment melalui perubahan tagline dari "Beyond The Gate" menjadi "Integrated Auto Solutions".
Perubahan ini menegaskan arah strategis IPCC dalam merespons perkembangan industri otomotif dan logistik yang semakin dinamis. Saat ini, IPCC tidak hanya berperan sebagai operator terminal, tetapi sebagai penyedia layanan logistik kendaraan terintegrasi end-to-end, yang mencakup terminal handling, land transportation, PDC / warehouse, distribusi ke dealer, hingga layanan shipping.
IPCC mengusung lima strategi untuk mencapai pertumbuhan operasional dan kinerja keuangan. Strategi tersebut mencakup asset expansion for scalable growth, integrated auto ecosystem development, global partnership & competitive benchmarking, operational excellence & digital transformation, serta revenue resilience & financial sustainability.
Selain menyiapkan strategi secara internal, Sugeng menegaskan bahwa IPCC mencermati faktor eksternal, termasuk tantangan yang membayangi industri otomotif. Salah satu yang menjadi perhatian adalah perubahan kebijakan berupa insentif EV yang berakhir pada 2025.
Dengan berakhirnya insentif tersebut, IPCC mengantisipasi penurunan volume impor mobil EV. Namun, Sugeng meyakini perubahan kebijakan pemerintah tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap kinerja IPCC. Hal ini didukung oleh kondisi pasar EV yang masih menunjukkan tren pertumbuhan seiring mulai beroperasinya beberapa pabrik EV di Indonesia, serta rencana insentif terhadap kendaraan hybrid.
IPCC pun memperkirakan akan ada pergeseran pola dari impor secara CBU menjadi produksi domestik dan berpotensi mendorong pertumbuhan ekspor EV. "IPCC akan terus menangkap peluang dengan memanfaatkan posisi strategis Indonesia sebagai export hub otomotif, sekaligus memperkuat layanan yang terintegrasi kendaraan listrik secara end-to-end," terang Sugeng.
Baca Juga: Bumi Resources (BUMI) Bidik Penjualan Batubara 78 Juta Ton pada 2026
Tak hanya mengejar penguatan usaha di pasar dalam negeri, IPCC juga menjajaki berbagai kemitraan global. Sugeng menegaskan, IPCC terbuka untuk menjajaki peluang kolaborasi dengan mitra potensial yang diharapkan dapat memberikan nilai tambah dan memperkuat posisi IPCC dalam industri otomotif global.
Sugeng memastikan, penjajakan kerja sama global IPCC tidak hanya terbatas di wilayah India maupun Timur Tengah. "Kami juga masih mencari pola kemitraan yang memberikan value terbaik bagi IPCC maupun calon mitra kami di masa depan," tandas Sugeng.
Strategi IPCC pada tahun ini akan didukung oleh alokasi belanja modal atau capital expenditure (capex) yang secara selektif dianggarkan sekitar Rp 16 miliar. Fokus capex akan digunakan untuk memperluas ground slot atau kapasitas penumpukan agar dapat menampung lebih banyak kargo baik ekspor dan impor kendaraan melalui terminal IPCC.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












