kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.765.000   -24.000   -0,86%
  • USD/IDR 17.744   8,00   0,05%
  • IDX 6.423   52,61   0,83%
  • KOMPAS100 852   8,78   1,04%
  • LQ45 644   9,38   1,48%
  • ISSI 229   1,34   0,59%
  • IDX30 367   5,93   1,64%
  • IDXHIDIV20 454   6,55   1,47%
  • IDX80 98   1,05   1,09%
  • IDXV30 126   0,54   0,43%
  • IDXQ30 119   2,04   1,75%

Setelah Gentlewoman, Sinar Eka (ERAL) Bakal Boyong Merek Ritel Fesyen Anyar di 2026


Rabu, 20 Mei 2026 / 09:20 WIB
Setelah Gentlewoman, Sinar Eka (ERAL) Bakal Boyong Merek Ritel Fesyen Anyar di 2026
ILUSTRASI. Sinar Eka (ERAL) gencar ekspansi ritel fesyen dan merek baru, bidik segmen menengah ke atas


Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL) atau Erajaya Active Lifestyle turut melirik peluang dari pengembangan bisnis ritel fesyen, meskipun di tengah ketidakpastian geopolitik yang dapat menahan daya beli masyarakat.

Asal tahu saja, pada akhir April 2026 lalu, ERAL membawa jenama fesyen asal Thailand, Gentlewoman ke pasar Indonesia melalui pembukaan gerai pertama di Mall Kelapa Gading 3, Jakarta Utara.

Direktur Utama ERAL Djohan Sutanto mengatakan, baik ekspansi toko ritel maupun kehadiran merek baru di sektor fesyen akan terus dilakukan perusahaan. Langkah ini dilakukan dengan tetap memperhatikan tren yang sedang berkembang di masyarakat.

Hingga akhir tahun ini, Djohan mengungkap perusahaan berencana menambah beberapa merek lagi di segmen fesyen dan aktif, meskipun tak membeberkan jumlahnya.

Baca Juga: Dukung Operasional di Hulu Migas, Pertamina Patra Niaga Siap Pasok Kebutuhan KKKS

Strategi ini dilakukan ERAL seiring kontribusi bisnis fesyen yang saat ini disebut masih kecil terhadap total pendapatan ERAL. "Hal ini karena kami baru mulai mengembangkan ritel fesyen, tapi akan terus berkembang ke depannya," jelasnya kepada Kontan, Selasa (19/5/2026).

Meskipun, Djohan tak menampik faktor makroekonomi dan ketegangan geopolitik masih menjadi tantangan bagi industri ritel. Ia juga tidak memungkiri, ketidakpastian geopolitik bisa mengerek harga jual ke depan.

"Situasi ini akan mempengaruhi harga bahan baku dan pada gilirannya akan mempengaruhi harga jual produk," sambung Djohan.

 

Dengan kondisi ini, ERAL memilih untuk lebih selektif dalam memilih produk dan merek yang cocok dengan kondisi daya beli masyarakat. Pasalnya, walaupun di tengah pelemahan daya beli, perusahaan melirik peluang dari masyarakat menengah ke atas yang masih menjadi target pasar bagi industri ritel fesyen.

"Prospek industri fesyen masih cukup bagus, terutama untuk segmen menengah ke atas," imbuh Djohan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×