kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.789.000   25.000   0,90%
  • USD/IDR 17.736   51,00   0,29%
  • IDX 6.382   -217,73   -3,30%
  • KOMPAS100 845   -29,54   -3,38%
  • LQ45 637   -14,33   -2,20%
  • ISSI 228   -10,02   -4,21%
  • IDX30 363   -6,07   -1,64%
  • IDXHIDIV20 449   -6,12   -1,34%
  • IDX80 97   -2,94   -2,94%
  • IDXV30 125   -3,28   -2,56%
  • IDXQ30 118   -1,34   -1,13%

XPENG Kendalikan EIDO, Sinar Eka (ERAL) Tinjau Pengembangan Kapasitas Produksi EV


Selasa, 19 Mei 2026 / 14:53 WIB
XPENG Kendalikan EIDO, Sinar Eka (ERAL) Tinjau Pengembangan Kapasitas Produksi EV
ILUSTRASI. Kepemilikan mayoritas Xpeng di EIDO ubah fokus bisnis manufaktur ERAL.


Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL) atau Erajaya Active Lifestyle tengah meninjau rencana bisnis manufaktur kendaraan listrik (electric vehicle/EV) seiring Xpeng mengambil alih mayoritas saham anak usaha ERAL di bidang manufaktur dan peraktivan EV, yakni PT Era Industri Otomotif (EIDO).

Direktur Utama ERAL, Djohan Sutanto mengatakan bahwa dengan keputusan ini, produsen otomotif asal China tersebut akan berfokus pada bisnis manufaktur, sementara ERAL tetap berfokus pada distribusi, penjualan, serta layanan purnajual.

Ia juga mengungkap, langkah ini akan memengaruhi rencana bisnis perusahaan ke depan di segmen otomotif, terutama kaitannya dengan rencana produksi dan penambahan kapasitas produksi.

"Kami sedang membahas rencana bisnis untuk tahun ini dan tahun depan dengan Xpeng, yang tentunya akan berpengaruh kepada rencana produksi. Saat ini juga masih dalam tahap pembahasan untuk pengembangan kapasitas produksi," jelas Djohan kepada Kontan, Selasa (19/5/2026).

Baca Juga: Xpeng Kuasai Manufaktur EV Erajaya, Pengamat Soroti Pentingnya Transfer Teknologi

Untuk nilai investasi yang dibenamkan Xpeng ke EIDO, Djohan bilang pihaknya masih melakukan finalisasi keseluruhan proses, sehingga belum dapat memerinci detailnya. Yang jelas, ERAL menargetkan fokus ini dapat mengembangkan penjualan dan jangkauan Xpeng lebih baik ke depan.

Di sisi lain, Djohan juga mencermati tantangan pengembangan manufaktur EV di Indonesia yang membutuhkan dukungan, fokus, hingga pengalaman dalam mengelola rantai pasok dan manufaktur. "Namun dari sisi permintaan, saat ini kami yakin telah mendapatkan minat dari masyarakat Indonesia," jelasnya.

Dari sisi industri, Pengamat Otomotif Bebin Djuana mengatakan bahwa langkah ini merupakan hal yang wajar mengingat industri otomotif merupakan industri yang padat modal, terutama pada tahap awal ekspansi.

Menurut Bebin, membangun jaringan distribusi, manufaktur, hingga ekosistem EV tidaklah mudah dan membutuhkan pendanaan besar. Sementara, lanjut Bebin, prinsipal otomotif juga punya kepentingan menjaga reputasi merek.

"Untuk semua itu tidak cukup kerja keras tapi juga dana yang besar. Xpeng menyadari hal itu sehingga harus turun tangan ke lapangan di bisnis manufaktur," jelas Bebin kepada Kontan saat dihubungi terpisah, Selasa (19/5/2026).

 

Sementara itu, Pakar Otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu pun mencermati, dampak langkah ini terhadap penguatan ekosistem EV sebenarnya bisa signifikan.

Asalkan, transfer teknologi yang dilakukannya mencakup kapabilitas substantif, bukan sekadar perakitan seperti praktik yang umumnya dilakukan agen pemegang merek (APM) di Indonesia.

"Kepemilikan mayoritas Xpeng ini berpotensi menjadi game changer jika disertai strategi transfer yang mendalam," ujarnya kepada Kontan, Selasa (19/5/2026).

Menurut Yannes, komitmen membangun research & development (R&D) lokal dan pengembangan supplier bernilai tinggi (high-value) perlu menyertai keputusan ini.

Yannes juga menyoroti langkah ini tetap berpotensi mempercepat laju pembentukan basis produksi EV lokal yang terintegrasi. Serta, meningkatkan rus investasi dan penciptaan lapangan kerja di sektor manufaktur EV domestik.

Baca Juga: Transkon Jaya (TRJA) Tambah Kegiatan Usaha, Ini Rinciannya

Ia bilang bahwa dengan kontrol penuh, prinsipal, dalam hal ini Xpeng, dapat mengambil keputusan investasi, lokalisasi, dan pengembangan rantai pasok secara cepat tanpa perlu banyak bernegosiasi dengan mitra lokalnya.

"Hal ini tentunya bakal memungkinkan percepatan pemenuhan TKDN dan transfer proses manufaktur yang lebih terintegrasi, dibandingkan model kerja sama tradisional," jelas Yannes.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×