Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Siantar Top Tbk (STTP) masih optimistis mengejar pertumbuhan bisnis dua digit hingga akhir 2026. Produsen makanan ringan tersebut akan mengandalkan penguatan penjualan di pasar domestik dan ekspor serta peluncuran produk baru untuk menopang kinerja.
Direktur Utama PT Siantar Top Tbk Armin mengatakan, hingga kuartal III 2026, penjualan perusahaan masih mencatatkan pertumbuhan dua digit. Capaian tersebut menjadi pijakan bagi STTP untuk mengejar target kinerja hingga penghujung tahun. "Penjualan tumbuh 2 digit," kata Armin kepada Kontan, Senin (19/10/2026).
Baca Juga: Kabut Asap Karhutla, Indonesia AirAsia Klaim Belum Terdampak Signifikan
Menurut Armin, perusahaan masih menjalankan sejumlah program untuk mendorong penjualan pada sisa tahun ini. Strategi tersebut mencakup penguatan pasar domestik dan ekspor, serta pengembangan produk baru.
"Kita tetap ada program penjualan domestik maupun ekspor dan tetap ada program produk baru," ujarnya.
Strategi tersebut dijalankan di tengah tantangan industri makanan dan minuman yang masih menghadapi tekanan dari kondisi ekonomi global. Pergerakan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS), ketegangan geopolitik, serta kenaikan harga sejumlah bahan baku menjadi tantangan bagi produsen makanan.
Sebelumnya, manajemen menyebut harga sejumlah bahan baku seperti tepung, minyak goreng, dan plastik kemasan mengalami kenaikan. Kondisi tersebut berpotensi menekan biaya produksi perusahaan. Meski demikian, STTP tetap mempertahankan optimisme terhadap prospek bisnis hingga akhir tahun. Armin mengatakan perusahaan masih membidik pertumbuhan dua digit sepanjang 2026.
Sebagai gambaran, sepanjang 2025 STTP membukukan penjualan Rp 5,24 triliun, meningkat dari Rp 4,96 triliun pada 2024. Pada periode yang sama, laba bersih perusahaan mencapai sekitar Rp 1,18 triliun.
Sementara itu, pasar ekspor menjadi salah satu tumpuan pertumbuhan STTP. Kontribusi ekspor sebelumnya telah mencapai sekitar 20% dari total penjualan, meningkat dibandingkan sekitar 18,9% pada periode sebelumnya.
Perusahaan juga terus melakukan diversifikasi pasar ekspor, termasuk memperkuat penetrasi ke kawasan Asia dan Timur Tengah serta menjajaki pasar Amerika Serikat dan Kanada.
Namun, ekspansi ekspor tetap menghadapi tantangan logistik akibat ketegangan geopolitik. Keterbatasan ketersediaan kapal dan perubahan rute pelayaran dapat meningkatkan biaya distribusi.
Baca Juga: Karhutla Ancam Bisnis UMKM, Pemerintah Diminta Beri Relaksasi Kredit
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














