Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto meresmikan uji coba (field trial/FT) injeksi chemical di Lapangan Meruap, Kabupaten Sarolangun, Jambi. Program ini menjadi salah satu upaya untuk mendongkrak produksi minyak di tengah kondisi banyak lapangan migas nasional yang sudah memasuki tahap matang (mature).
Kegiatan ini dijalankan oleh Kerja Sama Operasi (KSO) Pertamina EP – Samudera Energy Bandar Wijaya Property (BWP) Meruap melalui penerapan metode Enhanced Oil Recovery (EOR). Teknologi ini digunakan untuk meningkatkan perolehan minyak dari sumur-sumur yang produksinya mulai menurun.
Melalui uji coba injeksi chemical ini, perolehan minyak diproyeksikan meningkat hingga sekitar 16% dari 16 sumur yang terdiri dari 3 sumur injeksi dan 13 sumur produksi. Program ini juga ditargetkan menambah cadangan sekitar 50.000 barel serta meningkatkan produksi menjadi 280 barel per hari, atau naik lebih dari 50% dibandingkan baseline saat ini sebesar 180 barel per hari pada tiga pola pengembangan tersebut.
Baca Juga: SKK Migas Klaim Lifting Minyak Nasional 2025 Capai Target 605.000 Barel per Hari
General Manager KSO BWP Meruap, Ani Surakhman mengungkapkan, dukungan SKK Migas sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan sangat membantu kelancaran proyek. Kehadiran Kepala SKK Migas secara langsung menjadi penyemangat bagi tim di lapangan untuk mengoptimalkan produksi.
Sementara itu, Djoko menjelaskan Lapangan Meruap kini telah memasuki tahap produksi ketiga dan tergolong lapangan mature. Tantangan yang dihadapi antara lain penurunan tekanan reservoir dan tingginya kandungan air (water cut) pada produksi minyak.
"Pelaksanaan field trial ini menjadi secercah harapan untuk implementasi injeksi chemical yang lebih komprehensif di lapangan-lapangan mature di Indonesia," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (3/3/2026).
Baca Juga: SKK Migas Alokasikan LNG 120 Kargo pada Semester I-2026
Menurut Djoko, uji coba ini diharapkan menjadi pintu masuk penerapan injeksi kimia secara lebih luas di lapangan-lapangan tua di Indonesia. Langkah ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang mendorong optimalisasi produksi dari lapangan eksisting, dibandingkan mengandalkan eksplorasi baru yang berisiko tinggi dan membutuhkan biaya besar.
Ia juga menegaskan pentingnya penerapan prinsip kesehatan, keselamatan kerja, dan perlindungan lingkungan dalam setiap tahapan kegiatan. Keselamatan pekerja dan kepatuhan terhadap regulasi, katanya, menjadi prioritas utama.
Sebagai informasi, Lapangan Meruap dikelola PT Pertamina EP dan dikerjasamakan dengan BWP Meruap melalui skema KSO sejak Juli 2014. Produksi puncak lapangan ini pernah mencapai sekitar 5.000 barel per hari pada tahap produksi primer dan sekitar 2.500 barel per hari pada tahap sekunder.
Baca Juga: Tanpa Proyek Besar Onstream, SKK Migas Andalkan 300 Sumur pada 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













