kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.581.000   -14.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.983   71,00   0,40%
  • IDX 6.024   -46,70   -0,77%
  • KOMPAS100 777   -8,24   -1,05%
  • LQ45 595   -6,44   -1,07%
  • ISSI 209   -1,78   -0,85%
  • IDX30 329   -3,50   -1,05%
  • IDXHIDIV20 421   -3,93   -0,93%
  • IDX80 89   -0,95   -1,06%
  • IDXV30 114   -0,44   -0,38%
  • IDXQ30 108   -0,92   -0,84%

Solar Global Kian Ketat, Pasokan Dalam Negeri Cukup hingga 30 Hari


Kamis, 01 Oktober 2026 / 14:08 WIB
Solar Global Kian Ketat, Pasokan Dalam Negeri Cukup hingga 30 Hari
ILUSTRASI. Ketahanan stok nasional saat ini masih mampu menopang kebutuhan masyarakat serta sektor industri untuk beberapa waktu ke depan. ? (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketatnya pasokan bahan bakar jenis solar atau diesel di tingkat global yang memicu lonjakan harga di Amerika Serikat dan Eropa menjadi sorotan.

Kendati dinamika pasar dunia bergejolak, kondisi ketersediaan dan pasokan solar untuk kebutuhan dalam negeri dinilai masih berada dalam posisi yang relatif cukup aman.

Pengamat Migas, Hadi Ismoyo menilai, ketahanan stok nasional saat ini masih mampu menopang kebutuhan masyarakat serta sektor industri untuk beberapa waktu ke depan. 

Baca Juga: Kimia Farma (KAEF) Dapat Lisensi Produksi Obat Antivirus Influenza

Meskipun tekanan geopolitik global terus membayangi jalur pasokan, kondisi stok dalam negeri dinilai belum berada pada level yang mengkhawatirkan bagi kestabilan perekonomian nasional.

"Pasokan solar cukup sekitar 25-30 hari," ujarnya kepada Kontan.co.id, Kamis (1/10/2026).

Terkait dengan kebijakan impor, pemerintah tercatat telah menyetop impor solar jenis Cetane Number (CN) 48, tetapi masih mendatangkan jenis CN 51 dari luar negeri. 

Hadi menjelaskan bahwa kedua varian BBM tersebut memiliki perbedaan yang mendasar dari sisi spesifikasi teknis, fungsi peruntukan, hingga skema harga yang berlaku di masyarakat.

"CN48 adalah biosolar, jenis low grade diesel. Didukung penuh oleh industri CPO untuk menghasilkan biosolar. CN48 adalah biosolar subsidi. CN51 adalah jenis medium-high grade diesel non subsidi. Berbeda komposisi dan karakterisasinya. CN51 karena lebih mahal dan ekslusive, high spec, lebih mahal dan masih harus di impor," jelasnya.

Baca Juga: IEU-CEPA Buka Peluang Investasi, Apindo: Pengusaha Perlu Siapkan Standar Produk

Guna memperkuat ketahanan energi jangka panjang di tengah tingginya risiko geopolitik, Hadi meminta adanya percepatan program diversifikasi bahan bakar nabati.

Langkah tersebut dinilai sangat strategis untuk mengoptimalkan potensi sumber daya alam domestik yang melimpah sekaligus mengurangi ketergantungan pasokan minyak mentah dari pasar impor.

"Untuk jenis biosolar, perlu dikembangkan B50. Indonesia penghasil CPO terbesar di dunia. Jadi posisi resources pendukung kuat. Walau kita stop impor biosolar, namun crudenya masih impor," tegasnya.

Selain mendorong program biofuel, peningkatan kapasitas penyimpanan BBM nasional juga menjadi opsi vital untuk memperkuat cadangan strategis negara. Pemerintah dan BUMN disarankan menggandeng mitra usaha swasta agar rencana ekspansi fasilitas penyimpanan tersebut tidak mengganggu kondisi likuiditas maupun arus kas BUMN di masa mendatang.

"Dengan kondisi geopolitik global yang penuh ketidakpastian. Perlu tambahan storage agar cadangan strategis bisa dinaikkan misalnya menjadi double. Agar tidak membebani cash flow BUMN, bisa kolaborasi antara BUMN dengan swasta nasional dengan win win solution," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×