kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   3.000   0,11%
  • USD/IDR 17.835   -41,00   -0,23%
  • IDX 6.375   97,87   1,56%
  • KOMPAS100 833   11,37   1,38%
  • LQ45 633   7,57   1,21%
  • ISSI 221   4,34   2,00%
  • IDX30 351   3,57   1,03%
  • IDXHIDIV20 434   1,47   0,34%
  • IDX80 95   1,26   1,34%
  • IDXV30 119   0,20   0,17%
  • IDXQ30 112   0,55   0,49%

SOW Perkuat Industri Peternakan lewat Genetika dan Biosecurity


Rabu, 23 September 2026 / 18:32 WIB
SOW Perkuat Industri Peternakan lewat Genetika dan Biosecurity
ILUSTRASI. SOW Perkuat Industri Peternakan lewat Genetika dan Biosecurity (Dok/PT Sulawesi Optima Wirakarya (SOW))


Reporter: Leni Wandira | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Sulawesi Optima Wirakarya (SOW) mendorong modernisasi industri peternakan babi di Indonesia melalui pengembangan genetika ternak, manajemen peternakan modern, dan penerapan biosecurity.

Presiden Direktur PT Sulawesi Optima Wirakarya, Andreas Surjaputra mengatakan, penerapan ketiga aspek tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan produktivitas peternak sekaligus daya saing industri babi nasional.

"Pertukaran pengetahuan menjadi penting untuk mendorong penerapan praktik peternakan modern. Melalui kolaborasi ini, kami ingin memperkuat penerapan genetika, manajemen peternakan, dan biosecurity secara terintegrasi untuk meningkatkan produktivitas peternak dan daya saing industri babi Indonesia," ujar Andreas dalam keterangan tertulis, Rabu (23/9/2026).

Upaya tersebut salah satunya dilakukan melalui partisipasi SOW dalam International Livestock, Dairy, Meat Processing and Aquaculture Exhibition (ILDEX) Indonesia 2026. Forum tersebut mempertemukan pelaku usaha, penyedia teknologi, ahli, dan pemangku kepentingan di sepanjang rantai nilai peternakan dan pangan.

Dalam pengembangan genetika, SOW bekerja sama dengan perusahaan genetika ternak asal Denmark, DanBred. Kolaborasi tersebut menghasilkan DanBred Hybrid/F1 yang merupakan persilangan DanBred Landrace dan DanBred Yorkshire.

SOW menyebut indukan tersebut memiliki potensi menghasilkan sedikitnya 14 anak sapih pada kelahiran pertama, tingkat inseminasi buatan minimal 80%, efisiensi pakan yang baik, serta kemampuan beradaptasi terhadap kondisi tropis.

Indukan tersebut juga memiliki sifat keibuan, kualitas ambing dan produksi susu yang mendukung pertumbuhan anak, serta masa produktif yang panjang.

SOW telah membuka kesempatan reservasi calon indukan DanBred Hybrid/F1 bagi peternak Indonesia.

Baca Juga: Harga Pakan Naik, Peternak Ayam Hadapi Tekanan Margin

"Kami melihat genetika sebagai investasi jangka panjang bagi industri. Semakin baik kualitas indukan yang tersedia, semakin besar peluang peternak untuk membangun produktivitas yang konsisten. Dengan begitu peternak dapat merasakan manfaatnya semakin lama lagi," kata Andreas.

Key Account Manager DanBred, Henrik Nielsen mengatakan pengembangan genetika DanBred didukung lebih dari 100 tahun pengetahuan dan pengalaman dalam targeted breeding.

Selain itu, DanBred memiliki basis data genetika dengan lebih dari 34 juta data points yang tercatat sejak 1991.

"Penggunaan genetika DanBred memberikan tiga manfaat utama bagi peternak, yaitu meningkatkan produktivitas, meningkatkan efisiensi pakan, dan memberikan nilai ekonomi melalui kemajuan genetik yang berkelanjutan," ujar Henrik.

Menurut dia, pembaruan genetika secara berkala dapat membantu peternak mempertahankan dan meningkatkan performa ternak dari waktu ke waktu.

Penerapan genetika tersebut dilakukan melalui Batu Likupang Integrated Farm (BLIF) di Sulawesi Utara yang menjadi bagian dari pengembangan ekosistem peternakan SOW.

Selain genetika, sistem produksi di BLIF turut mempertimbangkan faktor lingkungan, manajemen, nutrisi, kesehatan, dan kesejahteraan hewan untuk menjaga performa ternak di iklim tropis.

Technical Service Manager DanBred Southeast Asia Ariel Peregrino mengatakan peningkatan manajemen peternakan, termasuk biosecurity, menjadi bagian penting dalam sistem produksi.

Baca Juga: Industri Pengolahan Susu Soroti Tantangan Hilirisasi Peternakan Sapi Perah

"Dari pengalaman kami di Filipina, babi dapat berperforma sangat baik di iklim tropis. Dengan manajemen yang tepat, produktivitas hingga 37 ekor anak sapih per induk per tahun dapat dicapai," ujar Ariel.

Ia menambahkan pengalaman tersebut dapat menjadi referensi bagi pengembangan breeding di Indonesia dengan penyesuaian terhadap kondisi setempat.

Sementara itu, Founder Vestin Agro Consulting Bjarne Vest menilai biosecurity merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengembangan peternakan modern.

Menurut Bjarne, penerapan biosecurity perlu dilakukan secara konsisten dalam kegiatan operasional sehari-hari.

"Sistem biosecurity yang sederhana tetapi dijalankan dengan disiplin dapat memberikan perlindungan yang lebih baik dibandingkan sistem yang kompleks tetapi tidak diterapkan secara konsisten," jelasnya.

Ia menambahkan, biosecurity bukan hanya terkait keberadaan sistem atau prosedur, tetapi juga memastikan prosedur tersebut dipahami dan dijalankan secara disiplin serta konsisten setiap hari.

Melalui pengembangan genetika, manajemen peternakan, dan biosecurity, SOW menargetkan penguatan ekosistem peternakan babi modern di Indonesia. Perseroan juga menyatakan kolaborasi dengan DanBred diarahkan untuk mendorong transfer teknologi dan peningkatan produktivitas peternak.

Baca Juga: Malindo (MAIN) Ekspansi Pabrik & Peternakan di Lampung, Siapkan Capex Rp 800 Miliar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×