Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan harga pakan kembali menekan margin peternak ayam rakyat.
Kondisi ini terjadi ketika harga ayam hidup (livebird) masih berfluktuasi, sehingga kenaikan harga jual belum otomatis meningkatkan keuntungan peternak.
Ketua Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo) Kusnan mengatakan pakan menjadi komponen terbesar dalam biaya produksi peternakan ayam.
"Pakan mencapai sekitar 60%-80% dari total HPP," ujar Kusnan dalam keterangannya, Sabtu (19/9/2026).
Baca Juga: Malindo (MAIN) Ekspansi Pabrik & Peternakan di Lampung, Siapkan Capex Rp 800 Miliar
Berdasarkan data Permindo, harga livebird sepanjang Januari-Agustus 2026 bergerak dari Rp 16.347 per kilogram (kg) pada Juni hingga Rp 24.519 per kg pada Agustus.
Rentang harga yang mencapai Rp 8.172 per kg tersebut menunjukkan tingginya volatilitas harga ayam.
Menurut Kusnan, kondisi peternak tidak cukup dilihat dari kenaikan harga livebird, tetapi harus dibandingkan dengan HPP aktual. Pasalnya, biaya produksi juga meningkat seiring kenaikan harga pakan dan bahan bakunya.
Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Tevi Melviana menambahkan bahwa industri pakan masih bergantung pada bahan baku impor.
Sekitar 36% bahan baku pakan broiler dan 29,5% bahan baku pakan layer berasal dari impor, terutama soybean meal (SBM), meat and bone meal (MBM) dan DDGS.
Dalam simulasi GPMT, harga pakan broiler naik dari Rp 7.882 per kilogram pada Mei 2025 menjadi Rp9.754 per kilogram pada Agustus 2026.
Baca Juga: Bidik Pasar MBG, Malindo Feedmill (MAIN) Bangun Pabrik Pakan Baru di Lampung
Harga jagung, yang menyumbang sekitar 45% formulasi, meningkat dari Rp 5.700 menjadi Rp7.250 per kilogram, sedangkan SBM naik dari Rp7.200 menjadi Rp9.300 per kilogram.
Pelemahan rupiah juga menambah tekanan karena meningkatkan biaya bahan baku impor. GPMT mencatat rupiah melemah 8,39% dalam 12 bulan terakhir hingga mencapai Rp18.279 per dolar AS pada Juli 2026.
Tekanan biaya ini melanjutkan persoalan yang sebelumnya dihadapi peternak. KONTAN mencatat harga livebird sempat turun ke Rp11.500-Rp12.000 per kilogram pada April 2025, di bawah HPP sekitar Rp17.500 per kilogram.
Pemerintah kemudian menetapkan harga acuan livebird di tingkat peternak Rp18.000 per kilogram mulai 19 Juni 2025.
Untuk meredam tekanan tersebut, Direktur Pakan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Tri Melasari mengatakan pemerintah akan mengevaluasi populasi broiler dan layer setiap tiga bulan serta memantau harga dan pasokan bahan baku.
Baca Juga: WMPP Bidik Pendapatan Rp 2,1 Triliun lewat Ekspansi Poultry dan Feedlot
Pemerintah juga menyiapkan peta kebutuhan bahan pakan lima tahun, mendorong riset bahan baku lokal, serta menyediakan jagung dengan harga Rp6.400 per kilogram untuk kadar air 14%. Percepatan penyaluran jagung SPHP kepada peternak dan koperasi juga menjadi bagian dari upaya stabilisasi.
Langkah tersebut diperlukan karena stabilitas usaha peternak tidak hanya bergantung pada harga jual ayam, tetapi juga kemampuan menjaga biaya pakan tetap terkendali.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














