Reporter: Tendi Mahadi | Editor: Tendi Mahadi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah perkembangan bisnis di berbagai sektor industri, sistem teknologi yang digunakan kerap tak sanggup mengimbangi kompleksitas operasional yang kian membesar. Sementara satu software kerap tak sinkron dan tak terhubung baik dengan software lainnya.
Solusi yang lazim ditempuh selama ini adalah tambal sulam, seperti menambah tenaga kerja. Banyak perusahaan menyadari perlunya bertransformasi, namun ragu melangkah, sebab sistem lama terlampau berisiko untuk diubah. Sementara, investasi informasi teknologi besar yang pernah dicoba kerap berakhir tanpa hasil nyata, meninggalkan trauma tersendiri bagi jajaran pimpinan.
Melihat perkembangan tersebut, SterlingLabs menilai pelaku bisnis di Indonesia akan tertinggal apabila tidak segera bertransisi menuju autonomous enterprise. Yakni perusahaan yang denyut operasionalnya digerakkan akal imitasi (AI) secara presisi dan mandiri, bukan sekadar sistem ERP yang masih sepenuhnya bergantung pada campur tangan manusia.
Tren ini telah dimulai di luar negeri, ditandai salah satunya oleh peluncuran SAP Joule Worker oleh SAP. Perbedaan autonomous enterprise dengan ERP konvensional bukan sekadar soal otomatisasi. Melainkan Industrial AI, yang berbeda secara mendasar dari AI publik yang lazim digunakan masyarakat umum.
Baca Juga: Pasar Digital Indonesia Capai US$ 99 Miliar, Pemerintah Bidik Investasi Teknologi
CEO SterlingLabs, Elroy Hardoyo, menyebut Industrial AI dibangun di atas struktur Role Based Access Control (RBAC), keamanan data privat perusahaan, hingga mampu beradaptasi cepat terhadap workflow baru.
"Yang terpenting, ia bekerja dengan hasil yang tepat dan konsisten, bukan jawaban yang bisa berubah-ubah (probabilistic) seperti kebanyakan sistem AI umum, semacam ChatGPT," ujar Elroy dalam keterangannya, Kamis (22/10).
Berkat upaya itu, biaya IT tahunan bisa ditekan lebih dari 80%, sementara efisiensi operasional dan margin penjualan justru meningkat.
Menurut dia, SterlingLabs bisa menjadi mitra transformasi bagi perusahaan Indonesia menuju autonomous enterprise, tempat solusi berbasis teknologi. "Kami percaya, perusahaan Indonesia tidak boleh tertinggal dalam gelombang transformasi ini", ujar Elroy Hardoyo.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














