kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.581.000   -14.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.992   80,00   0,45%
  • IDX 6.010   -61,64   -1,02%
  • KOMPAS100 774   -11,44   -1,46%
  • LQ45 592   -8,80   -1,46%
  • ISSI 208   -2,25   -1,07%
  • IDX30 328   -4,71   -1,41%
  • IDXHIDIV20 419   -5,32   -1,25%
  • IDX80 88   -1,32   -1,47%
  • IDXV30 114   -0,94   -0,82%
  • IDXQ30 107   -1,23   -1,13%

Stok Bahan Bakar Solar Global Mengetat, DEN Sebut Pasokan Domestik Aman


Kamis, 01 Oktober 2026 / 16:26 WIB
Stok Bahan Bakar Solar Global Mengetat, DEN Sebut Pasokan Domestik Aman
ILUSTRASI. KETAHANAN ENERGI (KONTAN/Fransiskus Simbolon)


Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dewan Energi Nasional (DEN) menilai pasokan bahan bakar diesel atau solar yang mengetat dan harga yang melonjak secara global belum tercermin dalam stok dan harga solar nasional.

Merujuk data Badan Informasi Energi Amerika Serikat (US Energy Information Administration/EIA), hingga 28 September 2026, harga solar di AS mencapai US$ 6,38 per galon. Level ini telah naik dibanding akhir bulan sebelumnya, 31 Agustus 2026, yang seharga US$ 5,59 per galon.

Baca Juga: PMI Manufaktur Indonesia di September Kembali Ekspansif, Terdorong Permintaan Ekspor

Anggota DEN, Saleh Abdurrahman menjelaskan bahwa mengetatnya pasokan bahan bakar solar memang terjadi dipicu oleh kenaikan harga secara internasional karena memanasnya konflik Yaman vs Kerajaan Saudi Arabia (KSA). Seperti diketahui, perang di Timur Tengah kembali meluas setelah Arab Saudi dan kelompok Houthi Yaman saling melancarkan serangan lintas perbatasan.

"Ya betul (pasokan bahan bakar solar mengetat), karena ada eskalasi konflik antara Yaman dan KSA," ujarnya kepada Kontan, Kamis (1/10/2026). Namun demikian, Saleh menilai situasi ini belum berdampak secara langsung terhadap stok solar dalam negeri lantaran produksi domestik yang masih dapat memenuhi kebutuhan.

"Untuk domestik saya kira relatif aman. Karena poduksi domestik secara umum relatif cukup," jelasnya.

Sejalan dengan itu, Saleh menyoroti pasokan domestik untuk program biodiesel 50% (B50) yang tengah dijalankan oleh pemerintah pun masih mencukupi. Lagipula, implementasi B50 tetap membutuhkan campuran bahan bakar berbasis sawit Fatty Acid Methyl Ester (FAME) 50% dalam biosolar.

"Secara umum kemampuan kilang Pertamina bisa memenuhi kebutuhan biosolar nasional karena ada campuran FAME sebesar 50%," imbuhnya.

Baca Juga: Adopsi AI Melesat, Metrodata (MTDL) Genjot Bisnis Data dan AI

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×