Reporter: Vina Elvira | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Suryacipta Swadaya, anak usaha PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA), menargetkan penjualan lahan industri sekitar 69 hektare pada tahun 2026.
Target tersebut berasal dari dua kawasan yang dikelola perusahaan, yakni Subang Smartpolitan dan Suryacipta City of Industry Karawang.
General Manager Sales & Tenant Relation Suryacipta Binawati Dewi mengatakan, kontribusi terbesar penjualan lahan tahun ini masih berasal dari pengembangan kawasan industri Subang Smartpolitan. Perseroan menargetkan penjualan sekitar 60 hektare di kawasan tersebut sepanjang 2026.
Baca Juga: Pameran SIRHA Budapest 2026: Produk Indonesia Catat Transaksi US$ 1,41 Juta
“Target kami tahun ini untuk Subang Smartpolitan, kalau belum direvisi sekitar 60 hektare. Sementara yang di Karawang kami harus menghabiskan sisa lahan sekitar 9 hektare,” ujar Dewi dalam acara media gathering, Jumat (13/3/2026).
Saat ini, Suryacipta City of Industry Karawang telah memasuki fase maturitas dengan ketersediaan lahan industri yang tersisa kurang dari 10 hektare dari total kawasan seluas 1.400 hektare.
Dengan kondisi tersebut, fokus pertumbuhan Suryacipta ke depan lebih diarahkan pada pengembangan Subang Smartpolitan.
Kawasan industri ini telah menjadi rumah bagi sejumlah tenant internasional, salah satunya produsen kendaraan listrik (electric vehicle/EV) global BYD.
Dewi menyebutkan progres pembangunan pabrik BYD sudah terlihat signifikan. Produksi awal ditargetkan mulai berjalan pada kuartal I 2026.
“Secara fisik sudah terlihat. Pembangunannya sangat masif. Bangunannya sudah jadi dan kantor juga sudah berdiri tinggi,” katanya.
Baca Juga: Ancol Targetkan Kenaikan Pengunjung 6% Saat Libur Lebaran 2026
Subang Smartpolitan juga mendapat manfaat dari proyek infrastruktur nasional. Kawasan ini terhubung dengan Proyek Strategis Nasional (PSN), khususnya Tol Akses Patimban yang nantinya memiliki pintu keluar langsung menuju kawasan industri tersebut.
Selain sektor otomotif, minat terhadap kawasan Subang Smartpolitan juga datang dari berbagai sektor lain seperti garmen, komponen sepatu, metal, hingga pusat data (data center). Investor yang berminat berasal dari Korea Selatan, China, serta perusahaan domestik Indonesia.
Dewi menambahkan, harga lahan industri di kawasan Subang Smartpolitan juga mengalami kenaikan pada awal tahun ini.
Harga yang sebelumnya dipatok sekitar US$125 per meter persegi sejak 2020, kini naik menjadi sekitar US$150 per meter persegi.
Baca Juga: ESDM Buka Peluang Impor Minyak dari Rusia Jika Sanksi Dilonggarkan
Kenaikan harga tersebut antara lain didorong oleh pembangunan Tol Akses Patimban serta rencana operasional penuh terminal peti kemas Pelabuhan Patimban pada akhir Desember 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













