Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) memproyeksikan, produksi nikel olahan nasional bakal mengalami penurunan hingga akhir tahun 2026.
Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) Arif Perdana Kusumah mengatakan, penurunan volume produksi ini dipicu oleh penyesuaian operasional smelter serta dinamika pasokan bahan baku yang dihadapi oleh para pelaku industri di dalam negeri.
Penurunan kapasitas produksi tersebut diposisikan mampu mengubah peta keseimbangan pasar nikel global yang sebelumnya sempat mengalami oversupply.
"FINI mengestimasi bahwa produksi nikel olahan Indonesia pada tahun 2026 diperkirakan akan mengalami penurunan sekitar 3,5 hingga 4% jika dibandingkan produksi tahun 2025 (total 2,5 juta ton Ni)," ujarnya kepada Kontan.co.id, Rabu (7/10/2026).
Baca Juga: Produksi Minyak Belum Capai Target, Penerimaan Migas Tak Cukup Biayai Subsidi BBM
Arif menjelaskan, penurunan produksi nikel tahun ini dipicu oleh penurunan utilisasi NPI dan pengalihan tanur untuk nikel matte serta penutupan tanur semester kedua demi pasokan listrik aluminium. Di sisi lain, operasi HPAL juga tertekan oleh tingginya harga sulfur, asam sulfat, serta mahalnya bijih limonit.
"Keseimbangan pasokan dan permintaan nikel sebenarnya telah berubah secara drastis sejak akhir tahun 2025. Kebijakan pasokan yang lebih ketat yang diterapkan Pemerintah Indonesia secara teoritis telah menyeimbangkan kembali pasar, mengurangi kelebihan pasokan/over supply besar yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya," jelasnya.
Arif mengungkapkan bahwa penumpukan persediaan nikel internasional masih membayangi laju pemulihan harga. Lonjakan stok nikel di bursa internasional dan pasar China diperkirakan masih menjadi penghambat utama bagi kenaikan harga nikel secara signifikan.
"Akan tetapi inventori di LME dan China, yang mana tahun ini bisa mencapai di atas 600 ribu ton, masih menjadi masalah bagi pasar dan berpotensi membatasi kenaikan harga, ketidakpastian mengenai kebijakan/peraturan domestik dan global serta kondisi geopolitik juga tetap menjadi perhatian," ungkapnya.
Baca Juga: Menko AHY Buka Suara soal Rencana Impor KRL Bekas dari Jepang
Kendati demikian, Arif memproyeksikan, dengan pengendalian pasokan yang berlanjut, posisi keseimbangan pasar akan bergerak lebih sehat ke depan.
"Proyeksi penurunan produksi nikel nasional sebesar 3,5%-4% pada tahun 2026, pertumbuhan permintaan tahun ini yang positif diperkirakan akan mengakibatkan oversupply 2025 akan menjadi defisit atau surplus kecil pada tahun 2026," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














