kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.710.000   20.000   0,74%
  • USD/IDR 17.840   57,00   0,32%
  • IDX 6.322   -43,07   -0,68%
  • KOMPAS100 830   -5,41   -0,65%
  • LQ45 630   -4,10   -0,65%
  • ISSI 219   -1,29   -0,58%
  • IDX30 353   -2,46   -0,69%
  • IDXHIDIV20 431   -2,95   -0,68%
  • IDX80 95   -0,56   -0,59%
  • IDXV30 119   -0,51   -0,43%
  • IDXQ30 112   -0,66   -0,59%

FINI Proyeksi Produksi Nikel Nasional Hanya 2,4 Juta Ton di 2026


Selasa, 11 Agustus 2026 / 09:52 WIB
FINI Proyeksi Produksi Nikel Nasional Hanya 2,4 Juta Ton di 2026
ILUSTRASI. Per Juli 2026, produksi nikel nasional mencapai 1,4 juta ton nikel, terdiri dari hasil produksi jalur pirometalurgi dan jalur hidrometalurgi (ANTARA FOTO/Andry Denisah)


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) memproyeksikan total produksi nikel nasional hingga akhir tahun 2026 bakal berada di kisaran 2,2 juta hingga 2,4 juta ton.

Angka proyeksi tersebut dinilai masih berada di bawah total kapasitas terpasang dari fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) yang telah terbangun maupun yang mulai beroperasi sepanjang tahun ini.

Ketua Umum FINI Arif Perdanakusuma mengungkapkan bahwa hingga pertengahan tahun ini realisasi volume produksi nikel di dalam negeri telah menunjukkan catatan positif.

Baca Juga: Hilirisasi Mineral Tak Cukup, Indonesia Harus Kuasai Teknologi hingga Manufaktur

Capaian tersebut ditopang oleh kinerja operasional gabungan dari jalur pengolahan pirometalurgi maupun hidrometalurgi yang terus beroperasi memasok kebutuhan pasar industri hilir.

"Catatan kami hingga bulan Juli 2026, pencapaian produksi nikel nasional sekitar 1,4 juta ton nikel, terdiri dari hasil produksi jalur pirometalurgi (NPI, FeNi dan Matte) dan jalur hidrometalurgi (MHP, nikel sulfat dan kobalt sulfat)," ujarnya kepada Kontan.co.id, dikutip Selasa (11/8/2026).

Meski demikian, lanjut Arif, pasokan NPI dari jalur pirometalurgi mengalami dinamika operasional akibat beberapa penyesuaian strategi dari para pelaku industri. 

Selain penurunan tingkat utilisasi pada sejumlah smelter berbasis RKEF, penurunan produksi tersebut juga dipicu oleh adanya pengalihan fungsi tanur pembakaran serta penghentian operasi sementara di beberapa kawasan industri terpadu.

"Adanya penurunan produksi NPI di Indonesia tahun ini, hal tersebut selain penurunan utilisasi beberapa smelter RKEF, juga sebagian disebabkan oleh pengalihan tanur/ furnace untuk memproduksi nikel matte, serta adanya penghentian beberapa tanur/ furnace pada semester II 2026 guna mengalihkan pasokan listrik untuk produksi komoditas alumunium di beberapa kawasan industri berbasis nikel," jelasnya.

Sementara itu, untuk operasional fasilitas pengolahan hidrometalurgi (HPAL), performansinya di semester II-2026 diperkirakan masih dibayangi oleh tingginya beban biaya operasional. 

Baca Juga: Bisnis Ramen Masuk Fase Selektif, Efisiensi Jadi Kunci Bertahan

Lonjakan harga komoditas bahan baku penunjang serta tingginya harga bijih limonit dinilai masih menjadi tantangan utama yang harus dihadapi oleh para pengembang proyek HPAL.

"Untuk operasi HPAL, diprediksi akan mirip dengan semester pertama, pada semester kedua 2026 ini masih akan terus terdampak oleh tingginya harga komoditas bahan baku penunjang berupa sulfur dan harga bijih limonit yang tinggi (jika tidak ada revisi formula HPM untuk limonit)," kata Arif.

Di sisi lain, terdapat pula dorongan positif dari penyelesaian konstruksi beberapa proyek HPAL baru yang mulai memasuki tahap pengujian operasional pada tahun ini. 

Walau demikian, Arif menambahkan, sebagian smelter lainnya tetap terpaksa memangkas volume produksi akibat tekanan finansial internal hingga masalah keterbatasan pasokan bahan baku di lapangan.

"Beberapa smelter dan refinery mengalami penghentian produksi dan/atau pengurangan produksi akibat beberapa kondisi seperti masalah keuangan internal perusahaan, ketatnya pasokan bahan baku dan bahan baku penunjang," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×