Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Minat investor Hong Kong terhadap kawasan industri di Indonesia dinilai meningkat seiring pergeseran rantai pasok global ke Asia Tenggara. Hal ini mengemuka dalam forum bisnis Indonesia Infrastructure Transformation – Unlocking Cross Border Investment Opportunities yang digelar oleh HSBC dan Federation of Hong Kong Industries di Hong Kong (4/3).
Dalam forum tersebut, PT Suryacipta Swadaya anak usaha PT Surya Semesta Internusa Tbk menyampaikan pandangannya mengenai perkembangan kawasan industri Indonesia di tengah relokasi rantai pasok global.
Chief Commercial Officer Suryacipta Abednego Purnomo mengatakan, kebutuhan investor kini tidak hanya sebatas lahan industri. Perusahaan manufaktur juga mencari kawasan yang memiliki integrasi logistik, infrastruktur digital, hingga dukungan transisi energi.
Menurutnya, perubahan kebutuhan tersebut juga berkaitan dengan upaya Indonesia menekan biaya logistik nasional yang saat ini masih sekitar 23% dari produk domestik bruto (PDB). Pemerintah menargetkan rasio tersebut turun menjadi sekitar 8% pada 2045.
Baca Juga: Beroperasi Januari 2026, Suryacipta Optimistis Patimban Beri Keuntungan para Tenant
Salah satu faktor yang dinilai mendukung efisiensi logistik adalah keberadaan Pelabuhan Patimban di Jawa Barat yang diproyeksikan menjadi salah satu pusat ekspor otomotif. "Infrastruktur ini juga diharapkan memperkuat konektivitas kawasan industri di sekitarnya, termasuk Subang Smartpolitan," katanya dalam siaran pers, (5/3).
Dari sisi investasi, Hong Kong masih menjadi salah satu sumber modal penting bagi Indonesia. Dalam periode 2021–2025, investasi langsung dari Hong Kong tercatat mencapai sekitar US$ 35,5 miliar, menjadikannya salah satu kontributor utama foreign direct investment (FDI) ke Indonesia.
Dalam diskusi tersebut juga muncul perhatian investor terhadap kecepatan realisasi investasi atau speed-to-market. Pelaku industri menilai kepastian regulasi dan kesiapan infrastruktur kawasan menjadi faktor penting untuk mempercepat dimulainya kegiatan produksi.
Selain itu, tren industrialisasi hijau juga mulai menjadi pertimbangan investor. Kawasan industri kini dituntut menyediakan infrastruktur yang mendukung efisiensi energi dan target pengurangan emisi.
Data investasi menunjukkan sektor industri logam menjadi penerima terbesar FDI dari Hong Kong dengan porsi sekitar 19,7% pada periode 2021–2025. Ke depan, peluang juga diperkirakan datang dari pengembangan baterai kendaraan listrik serta industri farmasi.
Di kawasan Subang Smartpolitan sendiri, beberapa investor telah masuk, termasuk produsen kendaraan listrik asal China BYD yang membangun fasilitas produksi di area tersebut.
Baca Juga: Suryacipta Dukung Operasional Pelabuhan Patimban
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













